Wah, kelihatannya perdebatannya makin seru nih.  Ilmunya pada keluar semua.  Saya 
ikutan lagi di bagian terakhirnya aja deh, untuk bikin kesimpulannya.  Mungkin akan 
lebih seru lagi jika topiknya diperluas ke area yang lain (politik, sosbud dsb).
Salam untuk P'Ongki.
 
Evy.
[EMAIL PROTECTED] wrote:





> Dalam pandangan saya, pola fikir para pengambil keputusan masih
> terpaku pada "quick yielding", sehingga tentu pandangannya akan
> mengarah kepada trading business, kalau tidak mau disebut lebih miris
> lagi mengarah pada broker business.

Masak sih ?
Apakah Regulasi dibidang telekomunikasi kita sekarang di tangani oleh
Singapore ?
Apakah regulasi Semen kita sekarang ditangani Mexico ?
---------
Saya fikir arahnya bukan kesana. Dalam kasus Indosat dan Semen Gresik
menjadi milik Singapura dan Mexico (mayoritas ?) bukan berarti regulasi
dalam industrinya di atur Singapura dan Mexico. Namun control terhadap
wealth daripada perusahaan tersebut menjadi di tangan pemilik baru
tersebut. Seandainya privatisasinya hanya sampai batas 49 % maximum kontrol
tetap ada di sini.

Yang saya maksud dengan pola fikir quick yielding terlihat dari beberapa
kebijakan dalam pengembangan industri. Salah satu contoh dalam hal CPO,
kita (baca PTPN dan swasta nasional lainnya) cenderung memproduksi buah
sawit dan mengolah jadi CPO/PKO di CPO/PKO mill, bukan refined product atau
turunannya. Demikian juga dengan Oil and Gas, kita cenderung mengembangkan
produksi untuk menjual/mengexport crude instead of refined product dan
turunannya. Refined product dan turunan ini nantinya akan kita impor
kembali dari luar, seperti Singapore (untuk kasus oil and gas), dan Belanda
atau Malaysia (dalam kasus minyak nabati). Lihat kejadian sekitar tahun
1990 an, dalam kasus minyak nabati. Begitu kampanye US tentang jeleknya
minyak sawit buat kesehatan (untuk memproteksi minyak soyabean mereka)
gagal dan ternyata refining dan oleochemical plant mereka kekurangan bahan
baku karena produksi soyabean sudah maksimal, mereka melirik SE Asia untuk
sumber bahan baku (baca CPO). Reaksi Indonesia dan Malaysia berbeda.
Malaysia bereaksi dengan membangun industri Oleochemical di Port Klang, dan
tetap menguasai industri hulu, yang makin ke hilir makin sedikit share
Malaysianya, tetap mereka tetap 100 % menguasai kebun sawit. Hasilnya
sekarang, Malaysia menjadi produsen oleochemical terbesar di dunia (yang
berasal dari CPO). 70 % CPO Malaysia diolah menjadi produk derivative yang
berdaya jual tinggi dengan presentasi kontrol 70 % juga, dan 30 % diolah
jadi minyak goreng dan produk konsumsi langsung lainnya untuk kebutuhan
domestik. Karenanya Malaysia menjual ke luar adalah dalam bentuk produk
derivative. Sementara kita hanya mengolah kurang dari 10 % menjadi produk
derivative, dan sekitar 30 % untuk minyak goreng, sisanya kita ekspor dalam
bentuk "real crude palm oil", bukan refined. Karena bagi kita it's faster
to sell the CPO.

> Sudah selayaknya kita berkaca ke negara-negara tetangga seperti Korea,
> atau bahkan Malaysia, yang dengan gigih dan sangat berfihak kepada
> industri mereka selama kurun waktu 15 - 25 tahun terakhir. Sepertinya
> selama ini(atau paling tidak akhir-akhir sejak orde baru runtuh), kita
> lebih berkaca kepada Singapura dan Hongkong, yang mengandalkan trading
> dan services. Negara kita adalah negara besar dengan 200 juta
> penduduk, tidak bisa hanya mengandalkan trading and services.
> Singapura dan Hongkong yang kecil tentu bisa mengandalkan ini, dengan
> asumsi bahwa production center mereka adalah negara-negara sekitarnya.

Sudah lihat China yg habis-2x an melakukan privatisasi ?
Penduduk dan luas negaranya berlipat dari kita lho.
-------------
China memprivatisasi industrinya dengan segala keberfihakannya. Tolong
simak pola privatisasi mereka yang sangat berbeda dengan kita.
Soal industri strategis, bahkan negara maju pun tidak memprivatisasi
industrinya. Framatome (industri nuklir Perancis) adalah BUMN, Air France
adalah BUMN, demikian juga dengan yang lain-lain. Ingat kasus privatisasi
Thomson CSF sekitar tahun 1990 an, yang tadinya sempat terjual ke Jepang,
di protes habis warganya, dan akibatnya dua hari kemudian deal itu
dibatalkan. Namun setelah Thomson di "privatise" sebagian ke pengusaha
nasional atau publik Perancis, rakyat tidak protes lagi. Lihat juga
bagaimana Boeing disubsidi pemerintah, bagaimana petani di negara maju
disubsidi pemerintah, dst.


Sudah lihat bagaimana BUMN di Singapore beroperasi ?
----------
Know very well bagaimana BUMN Singapore beroperasi, kebetulan perusahaan
kami yang di Singapore banyak bekerja dengan BUMN Singapore. Keberfihakan
pemerintah Singapura sangat-sangat besar. Jangan harap anda sebagai
perusahaan asing bisa bekerja di bisnis konstruksi di dalam negeri
Singapura tanpa melibatkan dan ada di bawah BUMN-BUMN tersebut. Kami banyak
bekerja di LTA dan PUB, termasuk MRT Singapore dan juga Water Plant serta
Changi Airport, kecuali anda datang sebagai FDI dan anda bangun plant anda
sendiri. Itupun tunggu dulu, tergantung apakah perusahaan Singapura tidak
ada yang berminat. Regulasinya mereka buat sedemikian rupa dengan cara-cara
yang "sophisticated", mulai dari penetapan standar, baik untuk proses,
management mutu, qualifikasi karyawan, dsb.dsb.


Singapore memang kecil, cuma segede Jakarta Barat doank, coba tengok
apakah ada Kabupaten di negara kita yg gedenya se Jakarta Barat yg punya
kapabilitas spt Singapore ?
-----------
Betul bung,.. tapi jangan lupa kabupaten di dalam provinsi, provinsi di
dalam NKRI, ada tk-II ada tk-I, ada Pusat. Ini tidak beridir sendiri.
Kalaulah dia berdiri sendiri mungkin akan ada "Singapura-singapura" kecil
di nusantara. Tapi kita juga tidak inginkan itu khan ? Kita tetap mau NKRI,
karena kita merasa saudara semua. Kalau semua modal orang Indonesia ditarik
dari Singapura, dan kalaulah seandainya ada perjanjian ekstradiksi antara
NKRI dan Singapura, mungkin Singapura tidak akan semaju ini (?). Can you
imagine ?? Ekonomi mereka bisa collapse atau paling tidak limbung.


Pemerintah pada khitahnya ngurusin regulasi/kebijakan, boleh saja dia
menyuntik modal, membuat perusahaan negara jika memang diperlukan, tp
hanya sementara pada saat diperlukan, nanti jika sdh running well, cabut
lagi dari situ. Mirip-2x Modal Ventura atau Bank Syariah gitulah.
--------
Setuju 100 % dan inilah yang saya katakan sebelumnya,berikan batas waktu
yang tegas, kontrol, dan hukum kalau sudah lewat batas waktu. Bukan seperti
kasus ATPM di Indonesia, bukan pula seperti kasus Pertamina yang sudah ada
(meskipun nama bisa berubah) sejak Indonesia belum merdeka. Sampai dimana
kemampuan industri nasional dalam perminyakan ?? Pipa casing, pipa bor
(drill pipe) dan bahkan production tubing pun mungkin industri nasional
belum bisa buat. Belum lagi kita bicara valves, logging tools, dsb. Kenapa
?? Karena Citra Tubindo, atau Bakrie Pipe, atau lainnya disuruh bersaing
langsung dengan Nippon Steel dan atau Poscon yang sudah punya pangsa pasar
di internasional. Skala ekonomi mereka sudah capai, industri kita baru
dibangun. Nippon steel bisa rugi di satu proyek di Indonesia, tapi untung
besar di North Sea dan atau Afrika misalnya. Pipa kita untuk sementara
belum di accept oleh North Sea market, perlu waktu dan perlu market
investment. Di hilir juga demikian. Di pipeline distribution misalnya,
meskipun ada "embrio" SCADA system yang dikembangkan LEN atau telemetry
system yang dikembangkan LIPI. Pertamina (yang nota bene BUMN sebagai
pengelola seluruh distribusi) meminta produk-produk ini bersaing dengan
Foxboro, Siemens, Yokogawa, Honeywell, dan sebagainya. Disinilah dibutuhkan
keberfihakan. Untuk berapa lama ??? Mari kita tetapkan batas waktu,
dibantu, dimonitor, dan diberi stimulus-stimulus. Untuk berfihak itu ada
harganya, ada pengorbanan, dsb.

Keberfihakan ini juga meluas ke masyarakat luas. Kita akan lebih bangga
kalau produk yang kita pakai adalah "merek" impor, meskipun hakikinya
barang tersebut cuma ditempeli label merek impor melalui lisensi.
Bandingkan dengan Malaysia, yang kebanyakan bangga akan identitas
nasionalnya, dengan semboyan merakyat : "Malayu boleh, Malayu berjaya".
Bandingkan dengan Korea, bandingkan dengan China, dsb. Akibatnya, kita
adalah bangsa pemakai dan pengguna yang loyal dan bangga akan itu.

Saya jadi ingat kata-kata pak Sampoerno (dosen ITB) dulu dalam sebuah
pelajaran di TPB : "Selamat Miskin, dan Selamat Terjajah".



--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : 
Moderators : 
Unsubscribe : 
Vacation : 







--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : 
Moderators : 
Unsubscribe : 
Vacation : 



---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! SiteBuilder - Free, easy-to-use web site design software

--[YONSATU - ITB]----------------------------------------------------------
Online archive : <http://yonsatu.mahawarman.net>
Moderators     : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Unsubscribe    : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Vacation       : <mailto:[EMAIL PROTECTED]>


Kirim email ke