Sebenarnya bag kepeg kita ini hrs diakui memang menderita penyakit akut. Nggak tahu jenis penyakit apa. Yang jelas sdh kelihatan adalah tanda-tanda fisik yg menunjukkan orang yg sakit. Sakit jiwa kah? Mungkin saja.
Beberapa waktu yg lalu sebarnya banyak surat yang masuk ke setdijen djpb dari skretaris/ setditjend unit els I lain yg menawarkan alih tugas. Tapi apa langkah setditjen/ kabag kepeg. Nggak satu pun surat itu diteruskan ke unit di bawah. Inilah yang membuat para peg yg kecewa berat dg kinerja kabag kepeg dan berbagai alasan lain untuk eksodus. Tapi karena gak ada saluran resmi ya terpaksa lewat pasar gelap. Toh akhirnya banyak juga yg dikabulkan lolos butuhnya. Ini artinya djpb merestui adanya pasar gelap. Mungkin saja ada oknum2 di kepeg yg punya link dg para makelar di esl 1 lain yg bermain disini. Yg jelas meraka adalah yg bisa narik gerbong. Biasanya esl 4,3,2. Kolaborasi yg unik. --- In [email protected], Bedes Sudrun <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mas Ncimothi, pertanyaan Anda cukup bagus. > Coba baca point pertama surat tersebut : > "Dalam rangka menjunjung etika birokrasi dan tertib administrasi.......... > Pernyataan diatas adalah sebuah bentuk pengakuan atas kelemahan sistem di Kepegawaian DJPB. Sebuah kejujuran yang diungkap secara tidak langsung...Kita berikan aplaus untuk Kepegawaian. DJPB, berarti selama ini Birokrasi kita, maaf .".tidak ber-etika". Administrasi Kepegawaian kita, sekali lagi maaf....."tidak tertib". > > Banyak pegawai yang hengkang dari DJPB tanpa sepengatahuan Atasan (Kepegawaian), sementara di lain pihak Kepegawaian tidak tranparan mengumumkan adanya kebutuhan pegawai di instansi lain,.....untuk ketiga kalinya maaf.....Siapa yang tidak ber-etika???
