Hello Budi,

Thursday, March 07, 2002, 5:26:19 AM, you wrote:

BR> Dulu, saya coba bikin working group co.id. Isinya macem-macem,
BR> mulai dari yang paling gencar memprotes sampai yang setuju, dll.
BR> Kemudian working group ini dibiarkan bertemu sendiri dan
BR> merumuskan. Hasilnya: ternyata usulan yang ada adalah seperti yang
BR> kita gunakan saat ini. (Saya tidak ikut campur blas)

Karena itulah selalu muncul anggapan bahwa IDNIC status quo dan ribet.
Apakah pendapat semacam itu bukan indikasi bahwa memang pengelolaannya
'bermasalah' ?

BR> Tudingan karena mereka berpengetahuan rendah dan bodoh menurut
BR> saya terlalu vulgar dan tidak beralasan.

Silahkan Pak Budi lanjutkan surveynya di ruang2 seminar itu, terutama
yang 95 % minta diketatkan semua aturan. Apakah mereka punya cukup
pengetahuan soal tetek bengek pengelolaan domain ? Coba ditanyakan
pada orang2 pemerintahan yang sekarang minta domain macem2 .go.id ?
Orang militer yang ribut dengan .mil.id ? Apakah mereka sudah cukup
ilmu soal ini ? Apakah selama ini cukup peduli ? Pasti jawaban tidak.

Bukannya mereka datang, minta ini itu, lalu nggak dapat dan akhirnya
ribut ? Lha kemaren2 ketika banyak 'provokator' berkoar2 sosialisasi
internet sampai ke sekolah2 dan gedung pemerentah, mereka ini pada ke
mana ? Ikutan tapi ngorok di mejanya ? Ketika ditawari ini itu cuman
senyum kecut dan cuek, sekarang baru ribut. Jadi ya salahnya sendiri.

Sedangkan soal gimana cara kerja domain ini saja mereka nggak ngerti.
Jangan2 gimana internet ini bekerja pun mereka nggak tau. Dikiranya
domain name ini kayak nama jalan yang bisa beres hanya dengan cukup
selembar SK bupati ?

Setahu saya selama ini di IDNIC, komunitas yang tidak banyak protes
tapi justru membantu adalah dari kalangan pendidikan / akademik, SLD
.ac.id atau .or.id (kalau ini memang tidak terlalu ribet). Artinya
banyak orang lain yang lebih peduli daripada komunitasnya sendiri.

Makanya sangat beralasan kalau saya sebut bahwa mereka yang 95 % itu
minta peraturan yang ketat karena pengetahuan mereka tentang hal ini
sangat rendah. Mereka minta aturan untuk melindungi kelemahan dan
ketidakberdayaan mereka. Dengan aturan maka 'ada orang lain / lembaga
yang ngurusi' sehingga mereka nggak perlu repot mikirin. Nanti kalo
mereka butuh tinggal terima jadi. Begitulah cara berpikir mereka.

Padahal kita tahu seharusnya caranya kan bukan begitu, mereka harus
mau kerja keras dan meminterkan dirinya sendiri, komunitasnya (apakah
militer, dunia usaha, pemerintahan) supaya berdaya sehingga mereka
tidak perlu berlindung dibalik proteksi dan tirani peraturan untuk
menutupi kelemahannya seperti jaman orba.

Padahal kalo kita melihat pada prinsip2 komunitas, dimana internet ini
bekerja. Jelas hal semacam itu tidak dapat dibenarkan, karena justru
itu menjadi kewajiban mereka untuk mikir sebagai komunitas terkait.
Misalnya soal .go.id ya depdagri lah ikut berpikir. Soal .mil.id ya
semua mabes, soal .co.id mungkin kadin dan asosiasi2 usaha ikut juga
berperan. Begitu mestinya, bukannya IDNIC yang repot. 

Artinya mereka siap dan bersedia kerja keras menjawab tantangan dunia
baru yang borderless, penuh persaingan dan peraturan yang sifatnya
universal dan supportif, bukan aturan yang detail, bersifat lokal,
defensif, protektif dan represif. Itu jelas sudah ndak jamannya.

Anda lihat bahwa yang 5 % menghendaki 'kebebasan' pasti punya cukup
pengetahuan dan kesiapan yang jauh lebih baik daripada yang 95 % itu. 
Karena itu mereka tidak merasa khawatir dengan 'kebebasan' di IDNIC.

Saya menjumpai ini dimana2. Ketika saya masuk di Diklat Propinsi dan
keliling ke banyak daerah memberikan introduksi TI, jawabannya memang
begitu. Apa2 minta diatur, internet semua hal diatur. Akhirnya mereka
ribut soal detail peraturannya bukan substansi internetnya. Internet
(termasuk soal domain name) malah jadi masalah bukannnya menyelesaikan
masalah, padahal media ini berpotensi merubah dan meningkatkan taraf
kehidupan mereka. 

Maka ungkapan saya bahwa mereka tidak berpengetahuan mungkin vulgar
tapi jelas bukan salah alamat. Saya lihat fakta dan alasan yang jelas
bahwa di bidang TI, yang kita butuhkan adalah perubahan cara pandang
dan budaya, bukan peraturan. Bahwa dunia ini memang sudah berubah luar
biasa, orang tahu itu tapi nggak mau dan tidak bisa menerima. Mereka
tetap ingin mempertahankan dunianya yang selama ini dianggap 'nyaman',
padahal itu kenyataan semu. Mereka jelas tidak bisa menghindar dari
fakta globalisasi ini.

Kalo nggak mau ikut berubah, ya kelibas.

Dan nyatanya setelah diberi pengetahuan dan pengertian yang benar juga
dengan motivasi kuat dari para pemimpin, pelan2 bisa juga berubah cara
berpikirnya.

BR> Kebebasan itu ada aturannya, yaitu tidak melanggar kebebasan orang
BR> lain. (Nah lo, recursif) Jangan sampai kebablasan dan salah kaprah
BR> seperti di Indonesia ini.

Saya setuju kebebasan itu ada tanggung jawabnya. Yang kita minta IDNIC
itu bukan bebas sebebas bebasnya, tapi cukup menerapkan koridor yang
sangat umum, tidak perlu detail sekali. Misalnya soal nama geografis,
itu bisa saja diberikan kriteria umum, bukannya dilarang sama sekali.
Soal pembuktian apakah pemakai berhak atau tidak, silahkan pengadilan
yang putuskan. Apabila tidak cukup peraturan dan undang2 yang ngurusi
hal itu, maka silahkan dong DPR dan Pemerentah yang punya kerjaan.

Jangan semua diborong IDNIC. Jangan sampai IDNIC masuk ke wilayah tak
bertuan, cukuplah IDNIC menerapkan aturan teknis, sisdur administrasi
dan menerapkan etika. Setelah itu merangkul komunitas sehingga dialog
lebih mengemuka supaya ada saling pemahaman. Ada kesan IDNIC ini suka
eksklusif, nggak gaul dengan komunitas TI lainnya.

Itu kesan yang ditangkap sebagian orang, lepas dari benar tidaknya
tentu dapat diperdebatkan. Jadi kesannya kurang sosialisasi, gitu.

Urusan dispute dan tetek bengek pengaturan, biar yang kompeten yang
ngurusi. Kalo nanti ada UU yang mengatur semua pemda harus paka nama
domain standar yang begini begitu, ya silahkan saja, IDNIC tinggal
menyesuaikan secara teknis. Syukur bisa sepakat tanpa UU segala macem

BR> Sampai sekarang pun yang 5% ini juga nggak ikutan apa-apa tuh.

Saya tidak setuju. Posting di milis ini pun sudah merupakan kontribusi
namanya juga volunteer, tidak bisa dipaksa. Banyak orang yang terlibat
dengan urusan domain maupun tidak, ikut milis. Itu suatu kesadaran.

Konsekuensi lembaga macam ini memang demikian, selalu kurang resource.
Kalo pengen bener maka kelembagaan IDNIC harus dibereskan dulu oleh
para founding father. Apa bentuk yang pas silahken dirundingken ...

Maka keterlibatan macam apa yang diharapkan IDNIC dari yang 5 % ini ?

BR> Yang 5% ini justru biasanya yang OMDO = omong doang :)

OMDO itu pekerjaan melelahkan, merumuskan isu, membuat tulisan, cari
sumber2 data, melakukan pengamatan. Butuh kontemplasi dan pemikiran
yang tajam sebelum dilempar kepada publik. Tapi saya memandang biar
bagaimanapun itu harus dihormati, cara macam itu juga merupakan salah
satu bentuk kontribusi.

Apakah itu sekedar berteriak di milis, itu kontribusi. Kalau negatif
maka itu menjadi 'pengingat' bagi yang lain. Kalaupun itu sampah juga
jadi pelajaran, kita yang merasa sebagai aktivis jadi tahu, ternyata
dalam tubuh komunitas masih ada juga hal2 semacam itu yang harus kita
hadapi. Tidak ada masalah dengan OMDO. Toh yang dipertaruhkan adalah
kredibilitas si pelaku OMDO. Biar saja lama2 kan nggak laku. Ngapain
pusing memikirkan mereka ? Malah jadikan pemacu semangat saja.

Kemudian saya juga memandang sisi baik lainnya. Mereka yang OMDO dan 5
% itu justru aktif di komunitasnya masing2, termasuk melakukan kerjaan
sosialisasi IDNIC. Supaya orang mau make domain .id, menjawab berbagai
permasalahan teknis dan administratif. Jadi tanpa diminta mereka telah
bekerja untuk IDNIC, semata karena tanggung jawab moral.

Pendeknya kurang tepat kalo dibilang cuman OMDO.

BR> Maklum, itulah sifat provokator. Cuma memanas-manasi, kemudian
BR> ngabur ketika pekerjaan dan tanggung jawab datang.

Kalau selalu memberi stigma kepada 'jalan perjuangan' aktivis TI lain
ya selamanya tidak akan bisa kolaborasi. Saya mengenal banyak orang yg
bisa disebut sebagai tokoh provokator. Kerjanya memang ngompori, bikin
sentimen, mendorong opini publik, melakukan pressure, memfasilitasi,
gerilya. Di balik itu ada kerja keras yang nyata, mereka ikut mikir
gimana cara membangun komunitas, memberi kesempatan kader2 baru untuk
tampil. Itu jelas kontribusi yang sama riilnya dengan mereka2 yang
secara legal formal bergerak di dalam pagar. Popularitas itu perlu.

Saya tahu mereka banyak yang pergi ketika kerjaan dan tanggung jawab
datang, mengapa ? Salah satunya karena mereka tidak kompeten sebagai
pelaksana teknis, kalo dipaksa ya jelas amburadul. Urusan ribet begini
ya serahkan pada aktivis yang memang jagonya. Mereka itu tetap suruh
jalan keliling sebagai provokator, jual kecap kemana2 sampai orang
pada melek semua. Biar saja, karena memang dia 'ahli' di bidang itu.
Yah kayak selebritis itu lah, yang tinggal main dan ngetop tapi soal
ribetnya produksi, casting, skenario, properti, editing, laboratorium
distribusi, promosi dan sebagainya manalah mereka tahu ? Tapi kalo
nggak pake selebritis mana bisa laku filmnya ?

BR> Lantas pengambilan keputusan berdasarkan apa?

Terus terang saya tidak tahu, justru jawabannya adalah pada yang 5 %
bukan mengikuti yang 95 %. Kenapa ? Simpel saja, yang 5 % itu waras,
sedangkan yang 95 % jelas buta pengetahuan. Lha bagaimana bisa bener
kalo yang waras ngikuti yang sedeng ?

BR> Saya tidak sepakat karena ini akan menimbulkan berantakan. Sama
BR> halnya dengan adanya Kaki Lima dimana-mana karena tidak patuh
BR> terhadap aturan yang sederhana sekali. (Jalan umum itu bukan untuk
BR> dijadikan tempat dagang atuh.)

Di sini saya tidak sepakat. Namanya aturan bukan selalu kudu tertulis.
Tanpa aturan PKL itu mestinya tahu etika, punya moral bahwa mereka itu
jelas mengganggu aktivitas orang lain, merampas hak pengguna jalan.

Semua orang sejak lahir hidup dididik dengan norma dan budaya meski
nggak pernah sekolah. Punya etika, PKL jelas sengaja menafikan itu,
egosentris kepentingannya sendiri.

Internet hanya punya dua koridor universal, satu teknis, dua etika.
Cukup, jalan lempeng sampai saat ini. Di mana letak berantakannya ?
Justru sedikit peraturan itu mendorong semua stake holders untuk
selalu melakukan kesepakatan dan memandang kepentingan universal.

Ini berbeda kalo ada peraturan yang detail, mereka baru datang duduk
dalam satu meja setelah sebelumnya saling mengacungkan golok. Mereka
datang sudah dengan interprestasi yang berbeda terhadap peraturan yg
sama karena bias dengan kepentingan masing2. Malah sering mencomot
aturan lain sebagai pendukung dan pembenar. Kacau malah.

Salah satunya pembahasan mengenai cyberlaw yang terus berpolemik. Itu
karena banyak kubu datang dengan kepentingan masing2 bukan bersepakat.

Di Indonesia ini sering terjadi komplikasi dan kontradiksi antara satu
aturan dengan aturan lain saking banyak dan usangnya, semua itu lahir
karena kepentingan yang berbeda. Mungkin hal macam itu terjadi juga di
IDNIC, lihat saja beberapa pertanyaan peserta milis ini.

BR> Banyak hal yang harus dijalankan dan tidak semudah itu bung.

Pendapat saya, dalam tataran cara berpikir kita tentu kompleks, tapi
ketika sampai di tataran implementasi ya harus melakukan simplifikasi
biar praktis. Menurut saya, awali dengan sesuatu yang mudah dan ringan
seperti orang berbuka puasa. Keep it simple stupid.

Justru saya melihat, IDNIC cenderung selalu 'mementahkan' pendapat2
yang seperti saya sampaikan ini. Tentu ini menimbulkan pertanyaan. Ada
banyak orang yang menduga ini terkait dengan paham yang dianut tokoh2
IDNIC dalam membangun IT nasional. Ini adalah style yang cenderung
'bergerak di dalam pagar' sehingga ide2 liberal harus disterilkan dari 
media2 ini. Benar salahnya sekali lagi bisa diperdebatkan.

Jadi komunitas IT nasional mungkin melihat perbedaan style IDNIC ini
dengan AWARI atau APJII misalnya. Sebenarnya itu bagus, memperkaya.
Tapi ketika itu menjadi penyebab terhambatnya kolaborasi (misalnya
soal dispute .war.net.id tempo hari) maka jelas akan kontraproduktif.
Atau ketika pendapat2 liberal harus dicounter sedemikian rupa di media
IDNIC yang mungkin mahzabnya konservatif. Dan sebaliknya ketika mereka
yang di IDNIC bergaul di media2 aktivis yang liberal, mereka seperti
dilecehkan. Yang terjadi nantinya justru terkesan saling menjatuhkan.

Padahal mereka semua tidak perlu dalam posisi bersaing head to head.

BR> ICANN saja punya banyak cerita di balik layar yang sampai sekarang
BR> masiiihhh ribut. Kelihatannya saja adem ayem, padahal kalau ikut
BR> organisasi di dalamnya wuih rame. Milis IDNIC ini kalah ramenya.

Benar, dibelakang boleh ribut dan harus begitu, wong namanya dinamika.
Tapi outputnya bagaimana, simple toh ternyata, praktis ndak ribet.

BR> Demikian pula banyak intrik-intrik yang "menarik" :) Kalau nggak
BR> tahan terhadap intrik-intrik dan tekanan bisa jadi bulan-bulanan.

Ini lembaga sosial yang ngurusi teknis, dilihat dari stake holdersnya
tentu bisa dipahami kalo bahasa utamanya adalah 'kepentingan'. Wajar.

-- 
Best regards,
 PatakaID                            mailto:[EMAIL PROTECTED]


--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke