On Wed, Mar 06, 2002 at 06:15:22PM +0700, PatakaID wrote:
> Itu karena paradigma. Yang 5 % itu sudah sadar bahwa era 'pengaturan'
> itu sudah lewat dan menimbulkan keribetan luar biasa selama ini. Yang
> 95 % lainnya masih status quo, ogah dan takut dengan perubahan. Pendek
> kata memang tidak punya mental bersaing, maunya diproteksi terus.

:)

> Mereka mau begitu karena pengetahuannya rendah, bodoh. Sehingga ingin
> agar IDNIC (dan lembaga modern apa saja) memproteksi dan mengakomodasi
> kelambanan mereka tersebut dg sejumlah aturan dan birokrasi yang ketat

:)

Dulu, saya coba bikin working group co.id.
Isinya macem-macem, mulai dari yang paling gencar memprotes
sampai yang setuju, dll. Kemudian working group ini dibiarkan
bertemu sendiri dan merumuskan. Hasilnya: ternyata usulan
yang ada adalah seperti yang kita gunakan saat ini.
(Saya tidak ikut campur blas)

Tudingan karena mereka berpengetahuan rendah dan bodoh menurut
saya terlalu vulgar dan tidak beralasan.


> Itu sama sekali tidak cocok dengan trend 'kebebasan dunia' saat ini.
> Mental semacam ini tipikal mental orang yang tidak siap. Lihat saja
> kasus Chandra Sugiono, Klik BCA dan lain2.

Kebebasan itu ada aturannya, yaitu tidak melanggar kebebasan orang lain.
(Nah lo, recursif)
Jangan sampai kebablasan dan salah kaprah seperti di Indonesia ini.


> Itulah, yang mestinya urun rembug itu kan yang 95 % itu kan ? Tapi
> coba dilihat, biasanya yang akhirnya masuk dalam pokja volunteer ini
> justru yang 5 % tadi. Justru yang 5 % persen itu harus capek2 untuk
> membela kepentingan para pemalas yang 95 % itu. Malas kompetisi dan
> mendewakan legal formal melulu. Padahal UUnya saja ketinggalan jaman.

Sampai sekarang pun yang 5% ini juga nggak ikutan apa-apa tuh.
Yang 5% ini justru biasanya yang OMDO = omong doang :)
Maklum, itulah sifat provokator. Cuma memanas-manasi, kemudian ngabur
ketika pekerjaan dan tanggung jawab datang.

> Terlihat sekali yang mental seenaknya itu siapa sebenarnya ? Jadi
> biarpun jumlahnya banyak, tidak harus dituruti. 

Lantas pengambilan keputusan berdasarkan apa?

> Mungkin shock therapy perlu diberikan, buka birokrasi IDNIC, bebaskan
> dan biar mereka yang tidak siap dan selalu ingin proteksi karena tahu
> dirinya bodoh (bukannya berusaha pinter) jadi merasakan benar susahnya
> alam 'kebebasan' itu. Biar ngerasakan bahwa dimana2 resource (termasuk
> nama domain) adalah barang yang terbatas dan jadi rebutan banyak orang
> kalo mereka cuek ya pada saat butuh ternyata udah diembat orang, maka
> silahkan gigit jari ... kesian deh lu.

Saya tidak sepakat karena ini akan menimbulkan berantakan.
Sama halnya dengan adanya Kaki Lima dimana-mana karena tidak
patuh terhadap aturan yang sederhana sekali.
(Jalan umum itu bukan untuk dijadikan tempat dagang atuh.)

> Mau apa lagi ? Gitu aja kok repot.

Banyak hal yang harus dijalankan dan tidak semudah itu bung.

ICANN saja punya banyak cerita di balik layar yang sampai sekarang
masiiihhh ribut. Kelihatannya saja adem ayem, padahal kalau ikut
organisasi di dalamnya.... wuih rame. Milis IDNIC ini kalah ramenya.


Demikian pula banyak intrik-intrik yang "menarik" :)
Kalau nggak tahan terhadap intrik-intrik dan tekanan bisa jadi
bulan-bulanan.


-- budi

--
STOP-LANGGANAN: 'unsubscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]
START-LANGGANAN:  'subscribe' ke: [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke