Mbak Lina yang baik, Mbak katakan: "Kalau memang Tritunggal, Hindu, Budha tak mengakui ke-esaan menurut definisi Islam yang Tauhid, itu namanya kafir. Tauhid itu gak ada tapinya (juga gak ada koma). gak bagaimana-bagaimana lagi. Gampang kan? Kebenaran universal itu mudah dicerna kok."
Semudah itu? Saya kira tidak mBak. Mengapa? Karena definisi ke Ilahian tiap agama muncul dalam saat dimana agama itu lahir. Agama Buddha, yang lahir 300an tahun sebelum Kristus, tak mungkin mengambil alih definisi ke Ilahian Kristiani, yang datang kemudian, demikian juga Kristiani, telah mendefinisikan ke Ilahiannya, sebelum Islam muncul.Agama Yahudi mendefinsikan ke Ilahiannya tanpa memasukkan peran Yesus, karena kala agama Yahudi muncu, Yesus belum lahir. Dst... Titik tolak juga berbeda. Buddha mendefinisikan keIlahian sebagai omnipresens, mahaada dan di-mana mana, jadi tak memasalahkan soal hitung-hitungan. Esa, dua ,tiga, adalah hitungan manusia. Keberadaan Ilahi, menurut Buddhismus, diluar hitungan manusia. Kristiani menggambarkan keIlahian dalam tiga wujud yang adalah satu. Islam mendefinisikan sama dengan agama Yahudi, simply satu. Buddhismus lahir diwilayah yang jauh dari wilayah agama agama Semit, jadi budayanya juga sangat berbeda. Yahudi, Kristen dan Islam yang masih satu keluarga, saling terkait, saling mengambil alih ajaran. Pembandingan sejarah adalah mungkin. Demikian juga Buddhisme, Shintoisme, Lamaisme, masih keluarga, saling terkait. Pembandingan sejarah juga mungkin. Kelompok agama agama yang masih bersaudara mengandung perbedaan yang cukup lebar, apalagi agama agama dari kelompok akar budaya yang begitu berbeda! Karena itu sulit, menuntut agama agama harus pas pada definisi SATU agama tertentu. Setiap agama absolut benar. Bagi pemeluknya masing masing.. Yang ingin saya kemukakan disini adalah faktor historis, bahwa bapak bapak kita dalam merumuskan kalimat ini, kala itu tidak sedang berdebat theologis, namun mencari perumusan politis, demi dan bagi keutuhan bangsa yang akan lahir ini. Beliau beliau tak ada waktu mengurusi kafir atau tidak, ini tidak signifikant bagi kelahiran negara yang baru.. Karena itu, tak mungkin bapak bapak kita, yang terdiri dari berbagai agama dan aliran itu, merumuskan kalimat itu keluar dari SATU definisi agama. mengapa? Karena negara yang akan dilahirkan, adalah agama yang multibudaya dan multiagama, dimana secara a priori, tak mungkin falsafahnya didasarkan pada definisi satu agama. Memaksakan definisi satu agama saat itu, akan meniscayakan kelahiran negara kesatuan RI yang kita miliki kini. Kini, generasi muda, generasi penerus hidup, dan akan meneruskan warisan negeri ini. Merekalah harus memikirkan apa yang penting bagi masa depan negara dan bangsa. Bapak bapak yang merumuskan dasar dasar negara, bung Karno, bung Hatta, pak Yamin, pak Ki Bagus Hadikusumo, pak Ratulangie, dll, sudah wafat. Tinggal bagaimana kita merumuskan apa yang kita anggap benar bagi kesinambungan republik ini. Kalau definisi keIlahian menurut Islam yang menjadi landasan untuk mengerti kata "Esa" itu, seperti kata mBak Lina, maka, mungkin perdebatan tak berkesudahan seperti dimasa sidang Badan Persiapan Kemerdekaan akan terjadi lagi. Inipun terjadi dengan akibat deadlock pada Sidang Dewan Konstituante yang membuahkan dekret presiden Sukarno 5 Juli. "Kafir" atau tidak, ini bukan pemahaman politis dan kenegaraan, ini pemahaman theologis. Kesatuan republik ini yang menjadi taruhan. Ketua Dewan Komisi Fatwa MUI, KH Ma'ruf Amien, menegaskan: "ulama dan teolog Islam yang ada dalam MUI melihat kemajemukan dan kerukunan umat beragama merupakan sebuah persoalan paling mendasar yang tidak terbantahkan. Kemajemukan merupakan sebuah realitas kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia sebagai bagian integral dari persatuan dan kesatuan menciptakan NKRI...." Nah, kita tak usah kita debat debatan mengenai "pluralisme" atau "pluralitas", kita seua tahu, apa yang dibutuhkan bangsa yang dirundung malang ini, yang masih papa dan kelaparan ini.. William Shakespeare menulis dalam kisah "Hamlet": To be, or not to be: that is the question:Whether 'tis nobler in the mind to sufferThe slings and arrows of outrageous fortune,Or to take arms against a sea of troubles,And by opposing end them? Maknanya ialah kita sampai pada titik pemutusan,menentukan "ya" atau "tidak". Menentukan, apa yang termutlak bagi bangsa ini, memasalahkan akidah antara manusia beda akidah, atau bergandengan tangan demi kemajemukan bangsa dan Tanah Air? Jangan lupa tangis ibu Pertiwi, yang sedang bersusah hati... Salam Danardono Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: Kata "KeTuhanan Yang Mahaesa" memang telah dipilih untuk merangkul semua agama karena memang fitrahnya semua agama akan mengakui makna sesungguhnya kata tersebut. Itu inti dari ajaran/konsep TAUHID. Apakah begitu makna yang terdapat dalam TRInitas...:-) terserah pengertian kita masing-masing deh ya? Ketuhanan Yang Mahaesa itu berasal dan datang dari syariat Islam. Memangnya apa sih yang ditolak pada masa persiapan Mukaddimah UUD 1945 tsb? Kalo menurut saya kok pencantuman 7 kata (yg intinya :menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya?) bukan soal kata "Ketuhanan Yang Mahaesa". Mereka menolak kata "syariat islam". Saya pribadi bisa mengerti keberatan bapak2 yang tidak ingin mencantumkan kata "syariat islam" kedalam sebuah dokumen negara (UUD) yang menjunjung pluralitas. Namun kenapa sekarang ini ketika MUI mengeluarkan fatwa (yang memang merupakan proporsi/tugasnya)yang bersifat kedalam harus dipidanakan karena kebodohan orang menafsirkan fatwa tsb? Kalau memang Tritunggal, Hindu, Budha tak mengakui ke-esaan menurut definisi Islam yang Tauhid, itu namanya kafir. Tauhid itu gak ada tapinya (juga gak ada koma). gak bagaimana-bagaimana lagi. Gampang kan? Kebenaran universal itu mudah dicerna kok. wassalam, --- In [email protected], Danardono HADINOTO <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> schrieb: > > Betul juga bu Lina. > Kalau ada yang mencoba mengukur agama dgn UUD, ya > berarti agama yang menyembah 3 oknum Tuhan harus > dilarang di Indonesia, karena bertentangan dengan sila > pertama dari Pancasila...:) > > DH: Betulkah? > > Mari kita kembali kemasa persiapan text Mukkadimah UUD 1945, pada sidang Badan Persiapan Kemerdekaan Indonesia di-bulan bulan Juni Juli sampai Agustus 1945. > > Kata "KeTuhanan Yang Mahaesa" dipilih, JUSTERU untuk merangkul semua agama yang kala itu ada di calon negara Indonesia: Islam, Kristen, Hindu-Bali, Kejawen, Buddha, Konghucu. > > Ini adalah alternatif daripada perumusan memakai syariat Islam, yang ditolak, karena tak mungkin merangkul semua anak bangsa. > > Jadi, dalam "keTuhanan yang mahaesa" itu, konsep ajaran Kristiani SUDAH diterima didalamnya. Kalau tidak, TAK ada RI seperti seklarang, karena bapak bapak wakil Indonesia timur menolak untuk menggabungkan diri. > > KeTuhanan yang mahaesa, termasuk Kristiani dengan Tritrunggalnya, Hindu-Bali dengan Brahma Vishnu Shiwa. Juga penganut Tao dan Konfucius. Buddha tak menggunakan konsep ketuhanan yang dipakai agama agama Semit, jadi juga tak mengakui keEsa-an menurut definsi Islam. > > Nah bagaimana? > > Salam > Danardono > > > > > > > > ********************************************************************* ************** > > It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west; > they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against > misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled. > > Sidharta Gautama > > > > > --------------------------------- > Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher > > [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] --------------------------------- YAHOO! GROUPS LINKS Visit your group "ppiindia" on the web. To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. --------------------------------- *********************************************************************************** It is wrong to think that misfortunes come from the east or from the west; they originate within one's own mind. Therefore, it is foolish to guard against misfortunes from the external world and leave the inner mind uncontrolled. Sidharta Gautama --------------------------------- Gesendet von Yahoo! Mail - Jetzt mit 1GB kostenlosem Speicher [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h1rld1i/M=362329.6886307.7839373.3022212/D=groups/S=1705329729:TM/Y=YAHOO/EXP=1122974888/A=2894324/R=0/SIG=11hia266k/*http://www.youthnoise.com/page.php?page_id=1998">1.2 million kids a year are victims of human trafficking. Stop slavery</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

