Pak Risfan, saya kira panjenengan tepat sekali mengatakan bahwa pendekatan fenomenologi untuk kawasan dengan spesifikasi unik dan tidak bisa digunakan untuk skala yang luas, artinya jika digunakan itu sangat dipaksakan. Teman saya dari Undip menegaskan bahwa fenomenologi itu sangat cocok untuk mendekati fenomena yang fokus dan lokusnya berimpit. Artinya, ya kawasan yang memiliki keunikan dan tidak terduplikasi di tempat lain (lokusnya bisa dimana-mana).
Fenomena relasi manusia dengan sungai bisa terjadi di mana-mana, tetapi fenomena relasi masyarakat Code dengan sungai Code yang spesifik ya hanya terjadi di sepanjang Kali Code di Yogyakarta. Keunikan tersebut-lah yang menjadi sebab utama munculnya keinginan menggali lebih jauh bagaimana keunikan hubungan manusia dan sungai di Code. Temuannya memang sebentuk teori lokal, yang berlaku di Code atau fenomena yang memiliki kemiripan dengan Code. Jika dilakukan generalisasi atau universalisasi tentunya hanya bagian yang inti saja dari teori yang ditemukan di Code. Bagi saya, meskipun temuannya hanya teori lokal, mungkin tidak terduplikasi di tempat lain atau tidak dapat berlaku di tempat lain, sebenarnya sudah cukup bagus sebab kita sudah mampu menemukan sendi-sendi kehidupan lokal yang spesifik. Teori yang ditemukan menjadi pijakan untuk intervensi yang berbasis budaya lokal. Sekarang kali Code ditanggul dengan talud pasangan batu dalam paradigma rasionalisasi, maka yang terjadi adalah ketertiban yang menghilangkan belik-belik lama. Hilangnya belik-belik itu juga menghilangkan budaya kehidupan di sungai di kalangan masyarakat bawah. Hal itu bisa juga menghilangkan katub-katub pengamana sosial yang mungkin ada sehingga dalam keadaan paling menderita-pun mereka masih bisa bertahan. Trend baru yang dikembangkan adalah re-naturalisasi kawasan sungai, supaya relasi manusia dengan sungai menjadi damai kembali, sungaiku juga menjadi halaman dan ruang kehidupanku. Bagi pengamat yang berjarak dari sungai dan kehidupan spesifiknya akan mengatakan bahwa rasionalisasi sungai adalah jalan yang sangat logis, tetapi orang lain dengan pendekatan yang lebih alami akan mengatakan itu keliru dan sebaiknya dilakukan tata hidup yang sinerji antara manusia dengan sungai. Sekarang ada Festival Code untuk menjaga harmoni kehidupan manusia dan sungai yang sempat hilang. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Tue, 8/11/09, risfano <[email protected]> wrote: From: risfano <[email protected]> Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? To: [email protected] Date: Tuesday, August 11, 2009, 11:43 AM Pak Dajrot, Pak Onnos, Sejauh yang saya pahami pendekatan-pendekat an kualitatif seperti fenomenologi, etnografi, grounded-research kok memang ditujukan untuk sesuatu yang spesifik dan lokal, pada sisi ekstremnya memang para pengembang metode itu memang menghindari generalisasi, deduksi, dst. Adat, tradisi, kepercayaan masyarakat Jogja mungkin beda dengan masyarakat pesisiran Jawa. Sehingga kalau dalam planning lebih kena untuk analisis level site, bagian kota atau kota kecil. Kalau untuk level regional, apalagi provinsi dan lebih luas, pendekatan kualitatif sejenis fenomenologi itu mungkin terlalu dipaksakan ya. Untuk metropolitan yang etnisnya campuran,kosmopolit mungkin konsistensi kesimpulan analisis tersebut lemah. Kalau dilakukan dalam wilayah luas, mungkin bisa, tapi untuk hal yang sangat spesifik. Seperti contohnya etnografi diterapkan untuk mempelajari "perilaku oang menggunakan komputer", beberapa merk komputer terkenal menggunakan penelitian ini untuk menyesuaikan design-nya dengan cara orang menggunakan komputer. Atau untuk produk minuman, misalnya, yang menemukan bahwa untuk merek tertentu orang suka beli karena bentuk dan warna botolnya, dst. "Peramalan" seperti Tofflers kan skalanya makro, inter-disiplin, tradisinya mungkin populer disini juga setelah "Limits of Growth" nya Club of Rome, gabungan ekolog, ekonom, sosiolog, budayawan, matematikawan, modeller, dst. Juga rand corporation, tentu. Kalangan bisnis-manajemen juga banyak mengembangkan pusat riset masa depan ala Global Business Networks/GBN (Peter Schwartz). Pada intinya mereka membuat skenario-skenario masa depan untuk mengantisipasi perubahan. Sesungguhnya letak nilai guna mereka bukan pada "ramalan"nya, karena ramalannya secara spesifik banyak meleset juga, tetapi model-model yang mereka kembangkan, untuk dipakai dan di-update terus dan mengantisipasi masa depan. Menyangkut planning di tanah air, dulu NUDS ada membuat kajian skenario yang inter-disiplin juga, ada dua faktor pengaruh yang diskenariokan waktu itu "desentralisasi" vs "perubahan struktur ekonomi pertanian-manufaktu r-jasa", masing-masing dengan 3 kemungkinan, jadi ada 9 skenario. Yang seperti itu menarik untuk dikembangkan dan diupdate terus, tapi siapa yang membiayai ya. Pasca reformasi yl, banyak kegiatan menyusun skenario masa depan dilakukan oleh lembaga pemerintah ataupun LSM, umumnya menggunakan pendekatan yang dikembangkan Peter Schwartz (GBN) yang dia tulis dalam bukunya "The Art of Long View". Peendahuluan buku ini menarik (seingat saya) karena mengisyahkan "dukun" Mesir, yang meramalkan kehidupan dari warna air Sungai Nil. Pada masa Mesir kuno mungkin itu ajaib, tapi pada masa kini penjelasannya rasional, karena air sungai mencerminkan curah hujan atau kekeringan dan tingkat erosi yang sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi agraria. Sekarang di negara kita orang bicara El Nino yang membawa kemarau panjang. Di ITB dulu yang penggiat kajian kajian futurologi tsb seingat saya almarhum Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana yang memang selalu tampil visioner, dialah pelopor satelit Indonesia, mungkin juga karena beliau masih putra Sutan Takdir Alisyahbana, budayawan yang selalu melihat ke depan. Saya lihat serial buku Toffler masih ada lengkap di TB Aksara di Pacific Place, cuma buku terakhirnya tahun 2006 ya, sebelum terjadi "krisis keuangan" USA, jadi keadaan dunia mungkin beda. Untuk ekonomi, barangkali menengok blog nya Krugman, atau economist edisi tertentu bisa mengobat rindu. Satu hal yang saya ingat dari pendapat Toffler ialah bahwa pada masyarakat Gelombang Kedua, pemilu hanyalah satu-satunya peluang rakyat milih, selanjutnya mesin "birokrasi dan korporasi" bekerja menurut logika mesin besarnya (yang membesarkan diri sendiri), tak peduli "apa atau siapa" yang telah dipilih rakyat. Salam, Risfan Munir --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@.. .> wrote: > > Pak Onnos, saya kira ada alternatif nyata yang berkembang, yaitu think > locally, do locally, meskipun dalam kesadaran aktif kita selalu ada informasi > global yang secara alamiah terlibat dalam proses berpikir dan mendorong juga > ke arah think globally. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Tue, 8/11/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..> wrote: > > From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@. ..> > Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? > To: "refere...@yahoogrou ps.com" <refere...@yahoogrou ps.com> > Date: Tuesday, August 11, 2009, 12:38 AM > >

