Pak BTS, fenomenologi kayaknya memang masih menjadi misteri pada sebagian 
ilmuwan mungkin karena dominasi cara pikir positivistik dan rasionalistik sudah 
ada lebih dahulu, apalagi sejak tahun 80-an fenomenologi sudah ditinggalkan 
oleh kalangan filsuf. Kajian dengan fenomenologi di UGM juga belum lama, sebab 
baru sejak tahun 2000 menegas berubah, dari samar-samar dengan label 
naturalistic inquiry, dan menegas lagi sejak tahun 2008 ini. Tahun 2009 seminar 
nasional di Undip para peneliti fenomenolog ini dikelompokkan menjadi satu 
ruangan dan semuanya mulai terlihat. Pada waktu pak Iwan Sudrajat berkomentar 
itulah, kami menjadi sadar, dan beliau menginspirasi feno bisa menjadi mashab, 
padahal kami di posko S3 ArsUGM biasa menyebutnya hanya "partai" saja. Ada 
partai CSR, partai Fenomenologi, partai interaksionisme simbolis, dll ketua 
partainya juga ada ha ha ha.....(ikutan Mbah Surip).

Sejauh saya rasakan (pakai rasa nih), pendekatan fenomenologi memang masih 
sangat misteri di kalangan awam (klien), tetapi dalam beberapa diskusi saya 
dengan teman-teman di perpustakaan Baperpusda Yogyakarta, jika ditayangkan 
dengan power point yang menarik mereka bisa menangkap isinya tanpa harus 
dipusingkan oleh paradigma dan metode yang kita gunakan. Saya yakin bahwa 
kerumitan memang harus ditelan oleh para pengamat / peneliti sementara klien 
yang kita layani ya tinggal lheeeb seperti menelan sosis ketika mencerna hasil 
kerja kita. Sejauh pengalaman saya mendiskusikan hasil penelitian atau hasil 
diskusi seperti itu.....klien kita bisa tambah kangen karena mereka merasa kita 
hantar sampai kedalaman realitas yang berlapis-lapis itu....yang mungkin nggak 
diungkap oleh peneliti dengan paradigma non-fenomenologi !

Pak BTS saya kira diskusi yang rumit memang harus menjadi porsi para peneliti, 
kecuali klien kita ingin minta penjelasan ya dijelaskan dengan hati-hati dan 
cermat. 

 Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Thu, 8/6/09, Bambang Tata Samiadji <[email protected]> wrote:

From: Bambang Tata Samiadji <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Thursday, August 6, 2009, 10:28 AM






 




    
                  Pak Djarot, terima kasih atas 2 posting-nya.
 
Pendekatan ketiga di samping empiris dan deduktif adalah fenomenologi 
sebagaimana dilansir Pak Djarot pada milis ini. Saya mengakui itu ada dan 
merupakan penyempurnaan dari 2 pendekatan logika yang ada. Saya cuma 
mengkhawatirkan saja apabila pendekatan fenomenal itu dikomunikasikan bisa 
tidak kesampaian kepada mitra, baik mitra kerja maupun mitra klien. Itu karena 
pendekatan fenomenologi itu bisa individual sekali tergantung pada intensitas 
dan kepekaan meditasi seseorang. Apalagi di dalamnya ada spiritualnya, maka 
menurut saya sangat  relatif. Saya setuju sekali Singup (dari teman Anda) 
diekspresikan dalam satuan-satuan fisik yang ada (sejauh mungkin bisa 
diwujudkan) baik itu ditaruh dalam empirk ataupun deduktif, yang tentu 
maksudnya supaya dimengerti khalayak. Maka tak heran to upaya Pak Djarot ada  
dikatakan "Black Box" (apalagi di pesawat Black Box warnanya orange, bukan 
hitam). Jadi pendekatan fenomenologi masih menjadi misteri
 apabila tidak bisa dijelaskan seterang-terangnya.
 
Demikian Pak Djarot. LANJUTKAN, saya juga ingin mempelajarinya. Tapi untuk diri 
saya sendiri aja.
 
Thanks banget. CU. BTS.

--- On Thu, 8/6/09, Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com> wrote:


From: Djarot Purbadi <dpurb...@yahoo. com>
Subject: Re: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Thursday, August 6, 2009, 2:17 AM


  






Pak BTS, ada tambahan tanggapan, khususnya isi gagasan pada pernyataan: logika 
akal yang dikawinkan dengan pengalaman empiris dinilai sudah memadai untuk 
menemukan solusi. Dari pernyataan ini saya menangkap gagasan implisit: begitu 
saja sudah cukup kok, buat apa mencari-cari logika lain lagi yang lebih nggak 
jelas.


Barangkali gagasan panjenengan itu benar jika dikaitkan dengan maksud menemukan 
solusi. Tetapi ceritera saya tentang positivisme hingga fenomenologi itu 
sebenarnya dalam kaitan dengan upaya memahami masalah atau subyek kajian, belum 
saya kaitkan dengan solusi. Bagaimana bisa ditemukan solusi yang cespleng jika 
pemahaman kita tentang subyek/obyek yang dikaji belum seutuhnya atau mendalam ? 
Bagaimana bisa dicari solusi cespleng tentang kemiskinan kota jika kita hanya 
tahu tentang teori kemiskinan kota dan sebaran serta perilaku anak jalanan, 
misalnya. Itu gagasan  dasarnya. Jadi yang saya jelaskan itu dalam rangka 
proses "naik gunung" (membangun pemahaman sekomprehensif mungkin) belum "turun 
gunung" (mencari solusi setepat mungkin). Metafora ini warisan dari Guru saya 
(Prof Parmono Atmadi) yang menjelaskan bahwa naik gunung adalah melakukan 
proses berpikir ke arah yang serba abstrak, sedangkan
 turun gunung adalah menggunakan filosofi-teori dsb untuk memecahkan masalah. 
Dalam terminologi yang lain, naik gunung adalah induksi - abstraksi dan turun 
gunung adalah deduksi - realisasi.


Peran fenomenologi khususnya tampak pada proses penyingkapan realitas dalam 
rangka pemahaman mendalam dan komperhensif (holistis). Jika positivisme puas 
sampai pada realitas fisik-visual, rasionalisme terpuaskan ketika sampai 
alasan-sebab rasional dibalik fenomena, maka fenomenologi baru terpuaskan jika 
sudah mencapai tiga lapisan realitas yaitu visual-rasional- transenden. 
Artinya, bedanya terletak pada kedalaman atau jenis realitas yang dicerap dan 
saya yakin kedalaman ini menentukan pikiran selanjutnya yang arahnya ingin 
menemukan solusi. Konon, beda paradigma menyebabkan temuan realitas yang 
berbeda, artinya solusinya juga beda.
Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Tue, 8/4/09, Btatas <[email protected]. id> wrote:


From: Btatas <[email protected]. id>
Subject: Re: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ?
To: refere...@yahoogrou ps.com
Date: Tuesday, August 4, 2009, 10:37 PM


  


Ysh Pak Djarot dan rekan sekalian.
 
Saya sebenarnya tidak tertarik mengikuti soal-soal yang keramat. Tapi tulisan 
Pak Djarot menggelitik saya untuk ikut bertanggap. Karena yang saya tanggapi 
bukan soal keramat, maka subjek keramat  saya ganti (sorry buat yang 
menginisiasi subjek  keramat).
 
Dikatakan oleh Pak Djarot bahwa bahwa menata ruang dengan logika akal (deposit 
pengetahuan) dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka perlu 
dilengkapi dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang sehingga 
fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. 
 
Yang saya garis bawahi bahwa logika akal dan empiris tidak memadai sehingga 
diperlukan peran aktif kesadaran. Dikatakan sebelumnya bahwa yang dimaksud 
dengan aktif kesadaran itu suatu fenomenologi, yaitu dimensi supranatural 
dengan logika tersendiri. Dikatakan juga bahwa supranatural itu semacam 
meditasi atau refleksi. 
 
Bagi saya yang berfilsafat sederhana, logika akal dan empiris sudah memadai 
untuk menemukan solusi. Kalaupun sering logika akal dan empiris itu kurang 
lengkap atau ternyata hasilnya kurang memadai, bukan karena pendekatan yang 
dilakukan salah, tapi mungkin informasinya tidak lengkap dan sahih, atau 
deposit pengetahuannya masih kurang tajam, atau mungkin dialektika yang 
digunakan kurang tepat. Toh seandainya hasil  logika pikir dan empiris itu 
tidak sempurna, kurang memadai, atau bahkan belakangan baru diketahui sebagai 
salah, itu tidak fatal atau kesalahan karena kebenaran itu sering muncul dari 
kesalahan-kesalahan . Jadi semua hasil logika pikir dan empiris tidak langsung 
jadi, harus melalui proses uji coba, terus menerus diperbaiki menuju presisi 
kesempurnaan yang tak pernah sempurna. Contohnya dulu komputer menggunakan 
punch-card dengan mesin segede gajah, melalui proses perbaikan, sekarang hanya 
segede
 notebook. Toh proses ini tidak perlu ada unsur supranatural ataupun meditasi, 
tapi hasil logika akal dan empiris yang menerus.
 
Dimensi lain yaitu supranatural/ fenomenologi walaupun katanya punya logika 
sendiri, menurut saya itu bukan logika atau alat pikir, karena sulit mencari 
ukurannya. Menurut saya itu rasa, bukan pikir. Rasa itu relatif dan setiap 
orang bisa berbeda. Kalau dimensi supranatural didiskusikan dalam tataran 
ilmiah, saya khawatir akan lari kemana-mana tdak karuan, karena setiap orang 
punya kadar meditasi berbeda-beda, tidak ada kesepakatan, akhirnya tidak ada 
solusi  praktis. Bagi insan yang punya sensitifitas tinggi karena kekuatan 
supranatural yang dimiliki akan bisa menikmati perihal keindahan unik dari 
objek, bisa merasakan keramatisasi mistis yang menggetarkan. ... ya silakan 
saja dinikmati, tapi bisakah ditularkan dalam bentuk solusi? Atau mungkin 
dimensi ini hanya bisa dalam skala kecil dan produk seni, seperti yang 
dicontohkan.
 
Demikian Pak Djarot logika sederhana saya.. ha...ha...ha. ..(ketawanya Mbah 
Surip, Inalillahi wainalilahi rojiun).
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 

----- Original Message ----- 
From: Djarot Purbadi 
To: refere...@yahoogrou ps.com 
Sent: Tuesday, August 04, 2009 12:21 AM
Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

  





Pak Onnos, mohon maaf ada tambahan dari saya sebagai berikut:


1. Jika tidak salah, sejak awal diskusi saya memahami supranatural bukan 
sebagai sebentuk pendekatan melainkan sebuah kumpulan dimensi. Dalam pandangan 
saya, supranatural merupakan salah satu unsur yang ada dan perlu mendapat 
perhatian dan dilibatkan dalam pemikiran tatanan keruangan. Saya juga 
sependapat bahwa jika supranatural dimaknai sebagai pendekatan dalam kegiatan 
penataan ruang, apalagi skala luas, pastilah akan berbenturan dengan arus 
demokrasi seperti paparan Pak Onnos. Dalam paparan saya beberapa kali saya 
selalu berusaha menjelaskan bahwa fenomena yang ditangani pemikiran planning 
bersifat multi-dimensi, termasuk adanya dimensi supranatural itu, maka mesti 
dicari cara berpikir yang memadai. 

2. Tentang logika yang jelas dalam planning dan (mungkin) "tidak jelas" dalam 
meditasi. Saya menduga bahwa pemikiran semacam ini perlu diperjelas, apakah 
benar dalam dunia meditasi (supranatural) tidak ada logika atau logikanya nggak 
jelas ? Saya sebenarnya lebih senang menyebut bahwa ada banyak logika unik di 
dunia ini, logika ilmiah bukan satu-satunya yang ada, maka termasuk di dalam 
dunia supranatural atau meditasi ada logikanya, hanya karakternya berbeda dari 
logika keilmuan "ala barat" yang banyak digunakan dalam banyak kegiatan ilmiah. 
Belajar dari Comte, kita menduga bahwa orang-orang yang masih dalam tahap 
teologis tentu punya logika unik bagaimana mengaitkan Tuhan dengan 
pikiran-pikirannya, demikian juga pada masyarakat metafisis, maupun masyarakat 
yang cenderung positivistis. 

3. Apalagi dari perkembangan pemikiran dalam filsafat terbukti bahwa kebenaran 
empiris baru sebagian saja dari kebenaran yang utuh, demikian juga kebenaran 
akali juga sebagian saja dari seluruh kebenaran yang lengkap. Artinya planning 
yang sangat rasional maupun sangat empiris sama-sama baru mencapai setengahnya, 
dan barulah utuh jika keduanya dipertemukan. Situasi ini semacam putar ulang 
perseteruan lama (rasionalisme vs empirisme) yang kemudian didamaikan oleh 
Immanuel Kant, bahwa kebenaran yang utuh adalah dari dua sisi: rasional dan 
empiris.

4. Sejarah mencatat ternyata empirisme maupun rasionalisme mengandung 
kelemahan. Orang yang rasionalistik cenderung menggunakan deposit 
pengetahuannya dalam memandang fenomena yang ada di depan matanya, artinya 
pikirannya "tidak murni" ketika berhadapan dengan fenomena. Demikian juga 
empirisme, atribut-atribut yang diperhatikan atas fenomena yang dilihat bisa 
mengaburkan hakekat yang dilihat. Dalam situasi pengamat terperangkap 
jaring-jaring pikirannya dan kekayaan pengalaman empiris menjadi bahaya yang 
mengaburkan hakekat fenomena ini datanglah Husserl dengan gagasannya 
fenomenologi yang intinya: dalam proses pengamatan (mencapai pengetahuan / 
kebenaran) haruslah pengamat dan fenomena dimurnikan supaya "aku murni" 
berjumpa dengan "obyek murni". Pada titik ini Husserl meninggalkan rasionalisme 
dan empirisme dan membangun cara baru yaitu fenomenologi.

5. Logika fenomenologi barangkali mirip meditasi (ada pengarang yang 
menggunakan kata meditasi) atau refleksi (menurut penulis lain), khususnya 
dalam memahami obyek, Husserl menggunakan konsep konstitusi. Maksudnya, jika 
kita melihat sebuah bangunan istana, maka bangunan itu dilihat dari segala 
sisinya, sehingga profil-profil yang ditangkap dari berbagai sisi kemudian 
dianyam dalam pikiran melalui proses merenungkan mendalam (meditasi atau 
refleksi). Ini proses konstitusi, artinya obyek dirakit di dalam pikiran 
menjadi obyek yang utuh sejauh profilnya tersedia. Ketika saya mengamati desa 
Kaenbaun, ada ribuan frame foto digital yang saya miliki, berkali-kali saya 
amati berulang kali juga, akhirnya proses refleksi tersebut menghasilkan desa 
Kaenbaun yang unik. Foto-foto fenomena visual tersebut memungkinkan 
terbangunnya desa Kaenbaun yang utuh di kepala saya. Husserl tidak mengatakan 
obyek yang diamati menjadi
 eksis di dalam kesadaran pengamat, bukan sekedar berada di dalam otaknya; ada 
di memori kesadaran.

6. Pesan paparan ini ingin menunjukkan bahwa menata ruang dengan logika akal 
(deposit pengetahuan) dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka 
perlu dilengkapi dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang 
sehingga fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. Artinya, 
rasional dan empiris saja tidak cukup, maka perlu dilengkapi dengan lebih 
kritis terhadap proses pengamatannya yang seringkali dikecoh oleh memori maupun 
kekayaan fenomena itu sendiri. Tentu cara seperti ini barangkali hanya bisa 
efektif pada skala ruang lokal (misalnya Parangtritis, kawasan Taman Wisata 
Borobudur, kawasan-kawasan unik, dsb). Jadi untuk skala megalopolitan pastilah 
tidak efektif lagi, malahan menimbulkan kontra-produksi atau kontra-demokrasi.

7. Apakah begitu ya Pak Onnos ? Mohon pencerahan Pak.
Salam,

Djarot Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- On Mon, 8/3/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> wrote:


From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>
Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: "refere...@yahoogro ups.com" <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Monday, August 3, 2009, 9:36 PM


  

Pak BSP dan rekan2 ysh,
Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning', sepertinya pak 
BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'. 
Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau 
menyusun semacam kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang pernah ada 
di negeri ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi 4' yang mungkin 
terkait erat dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia arsitektur mungkin sudah lama 
kita berkenalan dengan 'fengsui' yang kemungkinan dapat diperluas untuk dunia 
'planning' tingkat kota ? Namun demikian, dengan paradigma baru dalam 
'planning', salah satunya dengan lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam 
proses 'planning', apakah pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh 
masyarakat kita dimasa depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar 
teori 'planning ala-barat'
 yang serba pakai logika yang jelas, tetapi mungkinkah kita di jaman sekarang 
membangun negeri ini dengan tradisi katakan 'ala-timur' misalnya dengan cara 
'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta ruang yang dapat memberi 
kesejahteraan buat rakyat di negeri tercinta ini.
Wassalam,
Onnos  
 


To: refere...@yahoogrou ps.com
From: bspr...@indosat. net.id
Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

  


Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh,

Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat keramat. 
Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat keramat tersebut. 
Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan terjebak kepada 
pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik.

Contoh permasalahan yang akan muncul :

a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat meriam 
beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang kuat .... 
namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak sudut2 dimana energi 
tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah tersentuh .... karena memang 
disembunyikan oleh orang yang tahu... apakah kita akan mengklasifikasikan 
sebagai sebuah kesatuan atau terpisah ....

b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita 
mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita menggabungkan
 antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung 

c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat ataukah Istana 
Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana klasifikasinya;

d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti masjid di 
Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus (satu baru saja 
mati) 

e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar, Gunung 
Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria misalnya

Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang mencoba 
dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan menyebabkan kita 
perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan itu.

Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang berbasis 
pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan orkestra yang 
ditentukan oleh ukuran yang tertentu. 

Salam

bambang
 sp




Share your memories online with anyone you want anyone you want. 




      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke