Pak BTS, ada
tambahan tanggapan, khususnya isi gagasan pada pernyataan: logika akal yang 
dikawinkan
dengan pengalaman empiris dinilai sudah memadai untuk menemukan solusi. Dari
pernyataan ini saya menangkap gagasan implisit: begitu saja sudah cukup kok,
buat apa mencari-cari logika lain lagi yang lebih nggak jelas.
 

Barangkali gagasan
panjenengan itu benar jika dikaitkan dengan maksud menemukan solusi. Tetapi
ceritera saya tentang positivisme hingga fenomenologi itu sebenarnya dalam
kaitan dengan upaya memahami masalah atau subyek kajian, belum saya kaitkan
dengan solusi. Bagaimana bisa ditemukan solusi yang cespleng jika pemahaman
kita tentang subyek/obyek yang dikaji belum seutuhnya atau mendalam ? Bagaimana
bisa dicari solusi cespleng tentang kemiskinan kota jika kita hanya tahu tentang
teori kemiskinan kota dan sebaran serta perilaku anak jalanan, misalnya. Itu
gagasan  dasarnya. Jadi yang saya
jelaskan itu dalam rangka proses "naik gunung" (membangun pemahaman
sekomprehensif mungkin) belum "turun gunung" (mencari solusi setepat
mungkin). Metafora ini warisan dari Guru saya (Prof Parmono Atmadi) yang
menjelaskan bahwa naik gunung adalah melakukan proses berpikir ke arah yang
serba abstrak, sedangkan turun gunung adalah menggunakan filosofi-teori dsb
untuk memecahkan masalah. Dalam terminologi yang lain, naik gunung adalah
induksi - abstraksi dan turun gunung adalah deduksi - realisasi.


Peran fenomenologi
khususnya tampak pada proses penyingkapan realitas dalam rangka pemahaman
mendalam dan komperhensif (holistis). Jika positivisme puas sampai pada
realitas fisik-visual, rasionalisme terpuaskan ketika sampai alasan-sebab
rasional dibalik fenomena, maka fenomenologi baru terpuaskan jika sudah
mencapai tiga lapisan realitas yaitu visual-rasional-transenden. Artinya,
bedanya terletak pada kedalaman atau jenis realitas yang dicerap dan saya yakin
kedalaman ini menentukan pikiran selanjutnya yang arahnya ingin menemukan
solusi. Konon, beda paradigma menyebabkan temuan realitas yang berbeda, artinya
solusinya juga beda.




Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 8/4/09, Btatas <[email protected]> wrote:

From: Btatas <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: Pikir dan rasa --- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Tuesday, August 4, 2009, 10:37 PM






 




    
                  


Ysh Pak Djarot dan rekan sekalian.
 
Saya sebenarnya tidak tertarik 
mengikuti soal-soal yang keramat. Tapi tulisan Pak Djarot menggelitik 
saya untuk ikut bertanggap. Karena yang saya tanggapi bukan soal keramat, 
maka subjek keramat  saya ganti (sorry buat yang menginisiasi subjek 
 keramat).
 
Dikatakan oleh Pak Djarot bahwa bahwa menata ruang dengan logika akal (deposit 
pengetahuan) dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka perlu 
dilengkapi dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang sehingga 
fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. 

 
Yang saya garis 
bawahi bahwa logika akal dan empiris tidak memadai sehingga diperlukan peran 
aktif kesadaran. Dikatakan sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan aktif 
kesadaran 
itu suatu fenomenologi, yaitu dimensi supranatural dengan logika tersendiri. 
Dikatakan juga bahwa supranatural itu semacam meditasi atau 
refleksi. 
 
Bagi saya yang berfilsafat sederhana, logika akal 
dan empiris sudah memadai untuk menemukan solusi. Kalaupun sering logika akal 
dan empiris itu kurang lengkap atau ternyata hasilnya kurang memadai, bukan 
karena pendekatan yang dilakukan salah, tapi mungkin informasinya tidak lengkap 
dan sahih, atau deposit pengetahuannya masih kurang tajam, atau mungkin 
dialektika yang digunakan kurang tepat. Toh seandainya hasil  logika pikir 
dan empiris itu tidak sempurna, kurang memadai, atau bahkan belakangan baru 
diketahui sebagai salah, itu tidak fatal atau kesalahan karena kebenaran itu 
sering muncul dari kesalahan-kesalahan . Jadi semua hasil logika pikir dan 
empiris tidak langsung jadi, harus melalui proses uji coba, terus menerus 
diperbaiki menuju presisi kesempurnaan yang tak pernah sempurna. 
Contohnya dulu komputer menggunakan punch-card dengan mesin segede gajah, 
melalui proses perbaikan, sekarang hanya segede notebook. Toh proses ini tidak 
perlu ada unsur supranatural ataupun meditasi, tapi hasil logika akal dan 
empiris yang menerus.
 
Dimensi lain yaitu supranatural/ fenomenologi 
walaupun katanya punya logika sendiri, menurut saya itu bukan logika atau alat 
pikir, karena sulit mencari ukurannya. Menurut saya itu rasa, bukan pikir. Rasa 
itu relatif dan setiap orang bisa berbeda. Kalau dimensi supranatural 
didiskusikan dalam tataran ilmiah, saya khawatir akan lari kemana-mana tdak 
karuan, karena setiap orang punya kadar meditasi berbeda-beda, tidak ada 
kesepakatan, akhirnya tidak ada solusi  praktis. Bagi insan yang punya 
sensitifitas tinggi karena kekuatan supranatural yang dimiliki akan bisa 
menikmati perihal keindahan unik dari objek, bisa merasakan keramatisasi mistis 
yang menggetarkan. ... ya silakan saja dinikmati, tapi bisakah ditularkan dalam 
bentuk solusi? Atau mungkin dimensi ini hanya bisa dalam skala kecil dan produk 
seni, seperti yang dicontohkan.
 
Demikian Pak Djarot logika sederhana saya.. 
ha...ha...ha. ..(ketawanya Mbah Surip, Inalillahi wainalilahi 
rojiun).
 
Thanks. CU. BTS.
 
 
 

  ----- Original Message ----- 
  From: 
  Djarot 
  Purbadi 
  To: refere...@yahoogrou ps.com 
  Sent: Tuesday, August 04, 2009 12:21 
  AM
  Subject: RE: [referensi] Re: tempat 
  keramat--- critical planning ?
  
  
  
  
  
    
    
      Pak Onnos, mohon maaf ada tambahan dari saya sebagai 
        berikut:


        1. Jika tidak salah, sejak 
        awal diskusi saya memahami supranatural bukan sebagai sebentuk 
        pendekatan melainkan sebuah kumpulan dimensi. Dalam pandangan saya, 
        supranatural merupakan salah satu unsur yang ada dan perlu mendapat 
        perhatian dan dilibatkan dalam pemikiran tatanan keruangan. Saya juga 
        sependapat bahwa jika supranatural dimaknai sebagai pendekatan dalam 
        kegiatan penataan ruang, apalagi skala luas, pastilah akan berbenturan 
        dengan arus demokrasi seperti paparan Pak Onnos. Dalam paparan saya 
        beberapa kali saya selalu berusaha menjelaskan bahwa fenomena yang 
        ditangani pemikiran planning bersifat multi-dimensi, termasuk adanya 
        dimensi supranatural itu, maka mesti dicari cara berpikir yang memadai. 
        
         
        2. Tentang logika yang jelas 
        dalam planning dan (mungkin) "tidak jelas" dalam meditasi. Saya menduga 
        bahwa pemikiran semacam ini perlu diperjelas, apakah benar dalam dunia 
        meditasi (supranatural) tidak ada logika atau logikanya nggak jelas ? 
        Saya sebenarnya lebih senang menyebut bahwa ada banyak logika unik di 
        dunia ini, logika ilmiah bukan satu-satunya yang ada, maka termasuk di 
        dalam dunia supranatural atau meditasi ada logikanya, hanya karakternya 
        berbeda dari logika keilmuan "ala barat" yang banyak digunakan dalam 
        banyak kegiatan ilmiah. Belajar dari Comte, kita menduga bahwa 
        orang-orang yang masih dalam tahap teologis tentu punya logika unik 
        bagaimana mengaitkan Tuhan dengan pikiran-pikirannya, demikian juga 
pada 
        masyarakat metafisis, maupun masyarakat yang cenderung positivistis. 

         
        3. Apalagi dari perkembangan 
        pemikiran dalam filsafat terbukti bahwa kebenaran empiris baru sebagian 
        saja dari kebenaran yang utuh, demikian juga kebenaran akali juga 
        sebagian saja dari seluruh kebenaran yang lengkap. Artinya planning 
yang 
        sangat rasional maupun sangat empiris sama-sama baru mencapai 
        setengahnya, dan barulah utuh jika keduanya dipertemukan. Situasi ini 
        semacam putar ulang perseteruan lama (rasionalisme vs empirisme) yang 
        kemudian didamaikan oleh Immanuel Kant, bahwa kebenaran yang utuh 
adalah 
        dari dua sisi: rasional dan empiris.
         
        4. Sejarah mencatat ternyata 
        empirisme maupun rasionalisme mengandung kelemahan. Orang yang 
        rasionalistik cenderung menggunakan deposit pengetahuannya dalam 
        memandang fenomena yang ada di depan matanya, artinya pikirannya "tidak 
        murni" ketika berhadapan dengan fenomena. Demikian juga empirisme, 
        atribut-atribut yang diperhatikan atas fenomena yang dilihat bisa 
        mengaburkan hakekat yang dilihat. Dalam situasi pengamat terperangkap 
        jaring-jaring pikirannya dan kekayaan pengalaman empiris menjadi bahaya 
        yang mengaburkan hakekat fenomena ini datanglah Husserl dengan 
        gagasannya fenomenologi yang intinya: dalam proses pengamatan (mencapai 
        pengetahuan / kebenaran) haruslah pengamat dan fenomena dimurnikan 
        supaya "aku murni" berjumpa dengan "obyek murni". Pada titik ini 
Husserl 
        meninggalkan rasionalisme dan empirisme dan membangun cara baru yaitu 
        fenomenologi.
         
        5. Logika fenomenologi 
        barangkali mirip meditasi (ada pengarang yang menggunakan kata 
meditasi) 
        atau refleksi (menurut penulis lain), khususnya dalam memahami obyek, 
        Husserl menggunakan konsep konstitusi. Maksudnya, jika kita melihat 
        sebuah bangunan istana, maka bangunan itu dilihat dari segala sisinya, 
        sehingga profil-profil yang ditangkap dari berbagai sisi kemudian 
        dianyam dalam pikiran melalui proses merenungkan mendalam (meditasi 
atau 
        refleksi). Ini proses konstitusi, artinya obyek dirakit di dalam 
pikiran 
        menjadi obyek yang utuh sejauh profilnya tersedia. Ketika saya 
mengamati 
        desa Kaenbaun, ada ribuan frame foto digital yang saya miliki, 
        berkali-kali saya amati berulang kali juga, akhirnya proses refleksi 
        tersebut menghasilkan desa Kaenbaun yang unik. Foto-foto fenomena 
visual 
        tersebut memungkinkan terbangunnya desa Kaenbaun yang utuh di kepala 
        saya. Husserl tidak mengatakan obyek yang diamati menjadi eksis di 
dalam 
        kesadaran pengamat, bukan sekedar berada di dalam otaknya; ada di 
memori 
        kesadaran.
         
        6. Pesan paparan ini ingin 
        menunjukkan bahwa menata ruang dengan logika akal (deposit pengetahuan) 
        dan informasi empiris saja memang belum memadai, maka perlu dilengkapi 
        dengan peran aktif kesadaran di dalam diri penata ruang sehingga 
        fenomena yang ditangani akan menjadi lebih lengkap dan utuh. Artinya, 
        rasional dan empiris saja tidak cukup, maka perlu dilengkapi dengan 
        lebih kritis terhadap proses pengamatannya yang seringkali dikecoh oleh 
        memori maupun kekayaan fenomena itu sendiri. Tentu cara seperti ini 
        barangkali hanya bisa efektif pada skala ruang lokal (misalnya 
        Parangtritis, kawasan Taman Wisata Borobudur, kawasan-kawasan unik, 
        dsb). Jadi untuk skala megalopolitan pastilah tidak efektif lagi, 
        malahan menimbulkan kontra-produksi atau kontra-demokrasi.
         
        7. Apakah begitu ya Pak 
        Onnos ? Mohon pencerahan Pak.
         Salam,

Djarot 
        Purbadi

http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi 
        MWK]
http://arsitekturnu santara.wordpres s.com
http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com

--- 
        On Mon, 8/3/09, Sugiono Ronodihardjo 
        <sugion...@hotmail. com> wrote:

        
From: 
          Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>
Subject: 
          RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: 
          "refere...@yahoogro ups.com" 
          <refere...@yahoogrou ps.com>
Date: Monday, August 3, 
          2009, 9:36 PM


            
          
          Pak BSP dan rekan2 ysh,
Mengikuti diskusi tentang 
          'tempat keramat - critical planning', sepertinya pak BSP setelah lama 
          tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'. 
Memang sangat baik 
          kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau 
          menyusun semacam kumpulan ceritera tentang 'penciptaan 
          ruang' yang pernah ada di negeri ini dengan pendekatan 
          'supranatural' atau 'dimensi 4' yang mungkin terkait erat dengan 
          'kearifan lokal'. Dalam dunia arsitektur mungkin sudah lama kita 
          berkenalan dengan 'fengsui' yang kemungkinan dapat diperluas 
          untuk dunia 'planning' tingkat kota ? Namun demikian, dengan 
          paradigma baru dalam 'planning', salah satunya dengan lebih 
          adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam proses 'planning', apakah 
          pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh masyarakat kita 
          dimasa depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan 
          kita belajar teori 'planning ala-barat' yang serba pakai logika 
          yang jelas, tetapi mungkinkah kita di jaman sekarang membangun 
          negeri ini dengan tradisi katakan 'ala-timur' misalnya 
          dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta 
          ruang yang dapat memberi kesejahteraan buat rakyat di negeri tercinta 
          ini.
Wassalam,
Onnos  
 

          
          To: refere...@yahoogrou ps.com
From: bspr...@indosat. 
          net.id
Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700
Subject: Re: 
          [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning 
          ?

  
          
          
          Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh,

Memang 
          menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat 
          keramat. Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi 
tempat 
          keramat tersebut. Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak 
          akan terjebak kepada pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan 
          baik.

Contoh permasalahan yang akan muncul :

a. 
          bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat 
meriam 
          beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang 
kuat 
          .... namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak 
sudut2 
          dimana energi tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah tersentuh 
          .... karena memang disembunyikan oleh orang yang tahu... apakah kita 
          akan mengklasifikasikan sebagai sebuah kesatuan atau terpisah 
          ....

b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini 
          bagaimana kita mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... 
          akankah kita menggabungkan antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung 
          

c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat 
          ataukah Istana Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan 
          bagaimana klasifikasinya;

d. bagaimanakah kita menyikapi 
          terhadap lokasi "keramat" seperti masjid di Jimbung Klaten yang 
          dikeramatkan karena ada sepasang bulus (satu baru saja mati) 
          

e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua 
          Semar, Gunung Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan 
          Muria misalnya

Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan 
          pendekatan barat yang mencoba dengan pola sistematisasi dan 
          strukturisasi sehingga ini akan menyebabkan kita perlu melakukan 
          adjustment dalam pembuatan pengarsipan itu.

Inilah sulitnya 
          bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang berbasis pada 
          harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan orkestra yang 
          ditentukan oleh ukuran yang tertentu. 

Salam

bambang 
          sp

          

          
          Share your memories online with anyone you want anyone you want. 
          


 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke