Pak Abimanyu, Eyang Aby dulu mendapat ajian LAWANG MENGA seperti Kumbakarno. 
Pada Kumbakarno digunakan untuk makan makanan fisik sebanyak-banyaknya, 
sedangkan pada Eyang Aby digunakan untuk bersabda sebanyak-banyaknya ! Terima 
kasih buat Eyang Aby yang kalau menulis email bisa panjang banget....berapa 
hari nulisnya ya....mungkin juga ada ajian Balasrewu, pasukan seribu yang 
tangannya nggak hanya dua ribu melainkan1000x10 jadi 10.000 tangan, sampai 
nggak tahu kiri kanan atau yang mana pada setiap tangan.....

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Tue, 8/4/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Tuesday, August 4, 2009, 8:54 AM






 




    
                  Yth Pak Onnos,

Selama ini yang saya anggap dimensi ke 4 adalah waktu sedangkan dimensi ke 5 
kultur manusia setempat (termasuk kearifan lokal yang dapat arif lingkungan 
ataupun belum/masih antropogenik/ berbasis keberlanjutan komunitasnya sendiri, 
misalnya etnik yang berpindah setelah lingkungan lama tidak mampu mendukung 
lagi/rusak) --> waktu-ruang- kultural. 

Kalau supranatural mau dimasukkan, wah, bisa jadi dimensi yang ke 6, yang 
mungkin saya perlu belajar banyak dari rekan-rekan mengenai bagaimana metode 
pengumpulan informasi/datanya untuk penataan waktu-ruang- kultural- 
supernatural. ...?

(Eyang Aby, saya lupa bagaimana caranya semedi, dulu waktu mendapat wahyu 
cakraningrat bagaimana ya....? takut malah jadi memedi.....)   

Salam,
ATA

2009/8/3 Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>













 




    
                  


Pak BSP dan rekan2 ysh,

Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning', sepertinya pak 
BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'. 

Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau menyusun 
semacam  kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang pernah ada di negeri 
ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi 4' yang mungkin terkait erat 
dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia arsitektur mungkin sudah lama kita 
berkenalan dengan 'fengsui' yang kemungkinan dapat diperluas untuk dunia 
'planning' tingkat kota ? Namun demikian, dengan paradigma baru dalam 
'planning', salah satunya dengan lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam 
proses 'planning', apakah pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh 
masyarakat kita dimasa depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar 
teori 'planning ala-barat' yang serba pakai logika yang jelas, tetapi 
mungkinkah kita di jaman sekarang membangun negeri ini dengan tradisi katakan 
'ala-timur' misalnya dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta 
ruang yang dapat memberi kesejahteraan buat rakyat di
 negeri tercinta ini.


Wassalam,

Onnos  
 


To: refere...@yahoogrou ps.com
From: bspr...@indosat. net.id
Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700

Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

  



Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh,

Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat keramat. 
Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat keramat tersebut. 
Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan terjebak kepada 
pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik.


Contoh permasalahan yang akan muncul :

a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat meriam 
beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang kuat .... 
namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak sudut2 dimana energi 
tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah tersentuh .... karena memang 
disembunyikan oleh orang yang tahu... apakah kita akan mengklasifikasikan 
sebagai sebuah kesatuan atau terpisah ....


b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita 
mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita menggabungkan 
antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung 

c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat ataukah Istana 
Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana klasifikasinya;


d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti masjid di 
Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus (satu baru saja 
mati) 

e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar, Gunung 
Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria misalnya


Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang mencoba 
dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan menyebabkan kita 
perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan itu.


Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang berbasis 
pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan orkestra yang 
ditentukan oleh ukuran yang tertentu. 

Salam

bambang sp








Share your memories online with anyone you want anyone you want.

 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke