Pak Dajrot, Pak Onnos,

Sejauh yang saya pahami pendekatan-pendekatan kualitatif seperti fenomenologi, 
etnografi, grounded-research kok memang ditujukan untuk sesuatu yang spesifik 
dan lokal, pada sisi ekstremnya memang para pengembang metode itu memang 
menghindari generalisasi, deduksi, dst. Adat, tradisi, kepercayaan masyarakat 
Jogja mungkin beda dengan masyarakat pesisiran Jawa. 

Sehingga kalau dalam planning lebih kena untuk analisis level site, bagian kota 
atau kota kecil. Kalau untuk level regional, apalagi provinsi dan lebih luas, 
pendekatan kualitatif sejenis fenomenologi itu mungkin terlalu dipaksakan ya. 
Untuk metropolitan yang etnisnya campuran,kosmopolit mungkin konsistensi 
kesimpulan analisis tersebut lemah.

Kalau dilakukan dalam wilayah luas, mungkin bisa, tapi untuk hal yang sangat 
spesifik. Seperti contohnya etnografi diterapkan untuk mempelajari "perilaku 
oang menggunakan komputer", beberapa merk komputer terkenal menggunakan 
penelitian ini untuk menyesuaikan design-nya dengan cara orang menggunakan 
komputer. Atau untuk produk minuman, misalnya, yang menemukan bahwa untuk merek 
tertentu orang suka beli karena bentuk dan warna botolnya, dst.

"Peramalan" seperti Tofflers kan skalanya makro, inter-disiplin, tradisinya 
mungkin populer disini juga setelah "Limits of Growth" nya Club of Rome, 
gabungan ekolog, ekonom, sosiolog, budayawan, matematikawan, modeller, dst. 
Juga rand corporation, tentu. Kalangan bisnis-manajemen juga banyak 
mengembangkan pusat riset masa depan ala Global Business Networks/GBN (Peter 
Schwartz). Pada intinya mereka membuat skenario-skenario masa depan untuk 
mengantisipasi perubahan.
Sesungguhnya letak nilai guna mereka bukan pada "ramalan"nya, karena ramalannya 
secara spesifik banyak meleset juga, tetapi model-model yang mereka kembangkan, 
untuk dipakai dan di-update terus dan mengantisipasi masa depan.

Menyangkut planning di tanah air, dulu NUDS ada membuat kajian skenario yang 
inter-disiplin juga, ada dua faktor pengaruh yang diskenariokan waktu itu 
"desentralisasi" vs "perubahan struktur ekonomi pertanian-manufaktur-jasa", 
masing-masing dengan 3 kemungkinan, jadi ada 9 skenario. Yang seperti itu 
menarik untuk dikembangkan dan diupdate terus, tapi siapa yang membiayai ya.

Pasca reformasi yl, banyak kegiatan menyusun skenario masa depan dilakukan oleh 
lembaga pemerintah ataupun LSM, umumnya menggunakan pendekatan yang 
dikembangkan Peter Schwartz (GBN) yang dia tulis dalam bukunya "The Art of Long 
View". Peendahuluan buku ini menarik (seingat saya) karena mengisyahkan "dukun" 
Mesir, yang meramalkan kehidupan dari warna air Sungai Nil. Pada masa Mesir 
kuno mungkin itu ajaib, tapi pada masa kini penjelasannya rasional, karena air 
sungai mencerminkan curah hujan atau kekeringan dan tingkat erosi yang sangat 
mempengaruhi kehidupan ekonomi agraria. Sekarang di negara kita orang bicara El 
Nino yang membawa kemarau panjang.

Di ITB dulu yang penggiat kajian kajian futurologi tsb seingat saya almarhum 
Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana yang memang selalu tampil visioner, dialah 
pelopor satelit Indonesia, mungkin juga karena beliau masih putra Sutan Takdir 
Alisyahbana, budayawan yang selalu melihat ke depan.

Saya lihat serial buku Toffler masih ada lengkap di TB Aksara di Pacific Place, 
cuma buku terakhirnya tahun 2006 ya, sebelum terjadi "krisis keuangan" USA, 
jadi keadaan dunia mungkin beda. Untuk ekonomi, barangkali menengok blog nya 
Krugman, atau economist edisi tertentu bisa mengobat rindu.

Satu hal yang saya ingat dari pendapat Toffler ialah bahwa pada masyarakat 
Gelombang Kedua, pemilu hanyalah satu-satunya peluang rakyat milih, selanjutnya 
mesin "birokrasi dan korporasi" bekerja menurut logika mesin besarnya (yang 
membesarkan diri sendiri), tak peduli "apa atau siapa" yang telah dipilih 
rakyat.

Salam,
Risfan Munir



--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Onnos, saya kira ada alternatif nyata yang berkembang, yaitu think 
> locally, do locally, meskipun dalam kesadaran aktif kita selalu ada informasi 
> global yang secara alamiah terlibat dalam proses berpikir dan mendorong juga 
> ke arah think globally.
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> Djarot Purbadi
> 
> 
> 
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
> 
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
> 
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
> 
> --- On Tue, 8/11/09, Sugiono Ronodihardjo <sugion...@...> wrote:
> 
> From: Sugiono Ronodihardjo <sugion...@...>
> Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
> To: "[email protected]" <[email protected]>
> Date: Tuesday, August 11, 2009, 12:38 AM
> 
> 

Kirim email ke