Pak Onnos, Pak ATA, Pak Djarot dan rekan-rekan ysh.

Bila diperhatikan kondisi masa lalu memang 'pangripta loka' itu
merupakan masterpiece kebudayaan pada masanya. Karena itu karya ini
selalu menjadi momen dan diabadikan dalam prasasti dlsb. Salah satu
prasasti tertua (683 M) adalah Prasasti Kedukan Bukit yang menandai
pembangunan Sriwijaya di dekat Palembang saat ini, yang terjemahannya:
"bahagia pada tahun saka 605 hari kesebelas - bulan terang bulan waisaka
dapunta hyang naik di - perahu mengadakan perjalanan. pada hari ke tujuh
bulan terang - bulan jyestha dapunta hyang berangkat dari 'minanga' -
tambahan beliau membawa tentara dua laksa - tiga ratus dua belas
banyaknya, datang di mukha upang - dengan senang hati pada hari kelima
bulan terang bulan asada - dengan lega gembira datang membuat wanua -
perjalanan jaya sriwijaya memberikan kepuasan".

Penentuan titik lokasi yang 'the best and highest value' merupakan
pekerjaan para shaman
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/1022> , dengan teknik
dan metodologi yang perlu kita perhatikan saat ini, berhubung pada masa
itu belum ada peralatan gps, informasi klimatologi, kajian tanah, dlsb.
Dari beberapa lokasi yang pernah saya kunjungi dari mantan pusat-pusat
kekuasaan itu, memang terdapat rasionalitas yang tidak hanya sekedar
mempertimbangkan alam tetapi juga yang diistilahkan Pak Djarot dengan
'kekuatan-kekuatan alam'. Semula saya mengira hanya pertimbangan aspek
geomorfologis seperti orientasi gunung dan sungai, namun sebenarnya ada
yang kita lupakan dari ilmu kuno ini, yaitu ilmu falaq. Keahlian orang
dulu membaca peta langit sepertinya sudah hilang saat ini, apalagi oleh
para pangripta loka zaman sekarang. Saya kurang tahu tapi meyakini bila
ada pengaruh dari formasi bintang terhadap kondisi psikologis
masyarakat, dan juga mendasari pertimbangan-pertimbangan dalam pembuatan
keputusan komunal pada masa itu. Apalagi menurut seorang rekan astronom,
peta bintang ini dapat terlihat berbeda dari tempat-tempat yang berbeda.

Perhitungan bintang ini dilakukan oleh berbagai agama dan kebudayaan, di
antaranya menghasilkan sistem penanggalan dan perhitungan waktu. Di
dalam Al Qur-an juga banyak disebut masalah perbintangan ini, seperti
bintang dhuha, zuhal, dll. Di dalam kebudayaan Jawa
<http://groups.yahoo.com/group/kebudayaan/message/242>  saya kira telah
diekstrak secara aritmatik sehingga kesan astronomisnya menjadi hilang:
lokasi bisa menjadi tidak penting asal wethonnya tepat. Dengan
konsekuensi: perhitungan wethon dilakukan setiap waktu.

Mohon pencerahan selanjutnya dari para guru. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Sugiono Ronodihardjo <sugion...@...>
wrote:
>
>
> Prof. ATA, mas Djarot & rekan2 ysh,
>
> Wah ternyata kalau kita diskusi tentang yang 'ghoib' jadi menarik juga
ya... Prof. ATA, ada yang bilang itu 'dimensi ke-4', tetapi untuk masuk
kesana harus pakai indera yang ke-6.
>
> Bagi mereka yang punya bakat atau dikaruniai kelebihan/kepekaan indera
ke-6, mungkin bisa merasakan hal-hal yang 'ghoib' yang tidak 'kasat mata
normal', maka mereka yang punya 'keluwihan' tersebut dapat disebut
sebagai 'paranormal'.
>
> Masalahnya kalau dikaitkan dengan 'penciptaan ruang' yang seluas kota,
dimana dihuni oleh banyak orang dengan berbagai kemauan dan berbeda
pandangan, apakah 'pendekatan' tersebut dapat menyelesaikan masalah,
terutama tentunya untuk meningkatkan harkat hidup
(kesejahteraan&kedamaian&keselamatan) bagi masyarakat penghuni kota ?
Mungkin di jaman Kerajaan dulu, dimana rakyat menganggap rajanya sebagai
'wakil Tuhan' di bumi, semua rakyat menyerahkan 'kebijakan' kepada sang
raja, sehingga tidak ada 'planning process' yang demokratis dalam
pengambilan keputusan.
>
> Saya pernah terpikir 'analogi', kalau dulu ada orang yang punya
'keluwihan' bisa berkomunikasi jarak jauh dengan cara 'telepati',
sekarang dengan adanya 'hp' setiap orang dapat berkomunikasi jarak jauh
tanpa harus belajar dulu ilmu 'telepati'. Sepertinya penemu teknologi
'hp' itulah yang sekarang kita sebut orang 'linuwih atau sakti', karena
dia dapat 'menterjemahkan' fenomena 'telepati' dengan teknologi modern
yang dapat diterima dan menguntungkan orang banyak (walaupun ada segi
negatifnya juga lho...). Mungkinkah dengan 'semedi' kita dapat
memperoleh 'wangsit' pendekatan teknologi yang dapat 'menciptakan ruang'
untuk meningkatkan harkat hidup masyarakat suatu kota ? Semoga ada ya
....wallahualam bisawab.
>
> Wassalam,
>
> Onnos
>
>
> To: [email protected]
> From: takdi...@...
> Date: Tue, 4 Aug 2009 08:54:37 +0700
> Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
>
>
>
>
>
> Yth Pak Onnos,
>
> Selama ini yang saya anggap dimensi ke 4 adalah waktu sedangkan
dimensi ke 5 kultur manusia setempat (termasuk kearifan lokal yang dapat
arif lingkungan ataupun belum/masih antropogenik/berbasis keberlanjutan
komunitasnya sendiri, misalnya etnik yang berpindah setelah lingkungan
lama tidak mampu mendukung lagi/rusak) --> waktu-ruang-kultural.
> Kalau supranatural mau dimasukkan, wah, bisa jadi dimensi yang ke 6,
yang mungkin saya perlu belajar banyak dari rekan-rekan mengenai
bagaimana metode pengumpulan informasi/datanya untuk penataan
waktu-ruang-kultural-supernatural....?
> (Eyang Aby, saya lupa bagaimana caranya semedi, dulu waktu mendapat
wahyu cakraningrat bagaimana ya....? takut malah jadi memedi.....)
>
> Salam,
> ATA
>
>
> 2009/8/3 Sugiono Ronodihardjo sugion...@...
>
>
>
>
>
>
> Pak BSP dan rekan2 ysh,
> Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning',
sepertinya pak BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'.
> Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau
menyusun semacam kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang
pernah ada di negeri ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi
4' yang mungkin terkait erat dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia
arsitektur mungkin sudah lama kita berkenalan dengan 'fengsui' yang
kemungkinan dapat diperluas untuk dunia 'planning' tingkat kota ? Namun
demikian, dengan paradigma baru dalam 'planning', salah satunya dengan
lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam proses 'planning', apakah
pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh masyarakat kita dimasa
depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar teori 'planning
ala-barat' yang serba pakai logika yang jelas, tetapi mungkinkah kita di
jaman sekarang membangun negeri ini dengan tradisi katakan 'ala-timur'
misalnya dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta ruang
yang dapat memberi kesejahteraan buat rakyat di negeri tercinta ini.
> Wassalam,
> Onnos
>
>
>
>
> To: [email protected]
>
> From: bspr...@...
> Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700
>
> Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
>
>
>
>
>
> Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh,
>
> Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat
keramat. Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat
keramat tersebut. Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan
terjebak kepada pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik.
>
> Contoh permasalahan yang akan muncul :
>
> a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat
meriam beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang
kuat .... namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak
sudut2 dimana energi tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah
tersentuh .... karena memang disembunyikan oleh orang yang tahu...
apakah kita akan mengklasifikasikan sebagai sebuah kesatuan atau
terpisah ....
>
> b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita
mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita
menggabungkan antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung
>
> c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat ataukah
Istana Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana
klasifikasinya;
>
> d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti
masjid di Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus
(satu baru saja mati)
>
> e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar,
Gunung Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria
misalnya
>
> Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang
mencoba dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan
menyebabkan kita perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan
itu.
>
> Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang
berbasis pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan
orkestra yang ditentukan oleh ukuran yang tertentu.
>
> Salam
>
> bambang sp


Kirim email ke