Pak Abimanyu dan sahabats,

Sudah beberapa kali saya sampaikan bahwa hal-hal gaib itu tidak dapat kita 
masuki terutama bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan memasukinya. Jadi 
kebenarannya sangat tergantung pada kredibilitas informan yang mengalami atau 
yang bisa melihat. Secara ilmiah tentu ada caranya yang agak mendekati, yaitu 
dengan proses cross check atau triangulasi sampai jenuh. Repotnya, jika kita 
ingin mengungkapkan (bukan memasuki) kebenaran itu memang diperlukan 
orang-orang yang mengalami sendiri atau orang-orang yang mampu melihatnya. Cara 
ini seperti kita mendengarkan ceritera tentang mimpi yang sangat subyektif.

Tetapi sebenarnya ada bedanya. Minggu kemarin saudara saya yang saya ketahui 
bisa melihat alam gaib nyekar bersama saya ke makam saudara-saudara, dia 
berceritera bahwa beberapa kali dia datang ke makam eyang kakung dari 
sampingnya selalu ada kejadian aneh. Kejadian itu adalah dari sebuah nisan 
selalu keluar pusaka-pusaka yang bergerak-gerak naik turun, berupa keris, 
tombak dll. Dia sendiri selalu merasakan seluruh tubuhnya seperti dicocok-cocok 
dengan pusaka-pusaka itu. Nyekar kemarin lebih jelas lagi, ternyata dia melihat 
(gaib) di atas nisan itu duduk seorang laki-laki kekar badannya, leher dan 
kedua tangannya dirantai. Tangan kirinya memegang benda mirip sebuah telur 
angsa dan warnanya ungu-merah. Dia merasakan bahwa laki-laki itu masih saudara 
kami. Ketika nyekar selesai, di depan gerbang makam kakak saya bertanya, siapa 
nama orang yang dikuburkan di sebelah eyang kakung? Ia melanjutkan, orang itu 
pegangannya banyak dan sudah bertahun-tahun roh itu
 ada di sana. Tadi dia menyodorkan tangan kiri dan kayaknya mengatakan minta 
tolong supaya telur ungu-merah itu dilepaskan, sebab jika bisa dilepaskan ia 
akan terbebas dari semua jimat yang mengikatnya.

Soer harinya kami konfirmasi kepada Bapak, menanyakan siapa namanya dan 
bagaimana riwayatnya orang itu ketika masih hidup. Ternyata ada ceritera yang 
cocok, bahwa laki-laki kekar itu dulu memang orang hebat, punya banyak pusaka 
sehingga hebat. Dia bahkan bisa memindahkan bayi dari kandungan yang satu ke 
yang lain. Aneh-aneh kataku dalam hati. tetapi itu ceritera lama. Nah jika kita 
ingin memasuki kebenaran yang lebih dalam, tentu diperlukan langkah-langkah 
lagi yang lebih sistematis hingga ditemukan kejenuhan informasi. Artinya masih 
diperlukan informasi dari orang-orang yang hidup sejaman dengan laki-laki kekar 
itu. Kakak saya bilang, baginya cukup tahu nama lengkap laki-laki itu, dia 
sanggup melepaskan bebannya dengan doa khusus yang dilihatnya di tempat itu.

Jika serius untuk memasuki kebenaran gaib saya kira ada jalan yang bisa 
ditempuh, dengan cara-cara yang mendekati kebenaran ilmiah juga.

Salam,



Djarot Purbadi



http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]

http://arsitekturnusantara.wordpress.com

http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com

--- On Mon, 8/10/09, abimanyu takdir alamsyah <[email protected]> wrote:

From: abimanyu takdir alamsyah <[email protected]>
Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
To: [email protected]
Date: Monday, August 10, 2009, 5:07 PM






 




    
                  Mas Ono ysh, kalau pake prof2-an saya ga bebas ngomong nih, 
biasa sajalah, saya masih seperti di PMB dulu... (Kalau di tempat yang relevan 
ok, atau di dewan GB malah enak...karena ga inget nama semua GB, jadi tinggal 
panggil "prof"...beres...he he...praktis. ..)


Mengeai dimensi, dalam ber-hermenetik- fenomemologis saya lebih suka membagi 
dua saja: dimensi alam dan manusia.

Kalau alam (ecologik atau bio-geokimia/ fisik) ya waktu-ruang (4 dimensi) saja, 
karena saya bukan nabi Sulaiman yang bisa berdialog dengan unsur alam...Karena 
alam tidak bisa ngomong (paling tidak sama saya, pendekatan hermenetik lebih 
pas bagi saya....telusuri saja secara mendalam.... 

Kalau manusia (antropo atau psiko-sosio- ekonomi-hukum- budaya, dll unsur 
peradaban manusia) saya menambahkan istilah "kultur", jadi 5 dimensi: 
wakturuang kultural. 

Sebabnya? semua hasil pemikiran, penghayatan, kepercayaan dll manusia walau 
sangat beragam produknya atau seberapa luas wilayah jelajah rohaninya atau 
seberapa mumpuni ajian kewajyuannya, yang saya peroleh baru sampai tahap 
memahami kekhasan pemberian nilai-nilai/ values yang bersifat atau berbasis 
kultur kelompok (atau individu?) yang dianut (dipercaya)- nya. Nah kalau 
dimensi ke-enam dst yang mas Ono sampaikan, menurut saya dapat saja diduplikasi 
terhadap yang 5 dimensi tersebut, walau tidak "kasat mata", susah saya 
pertanggung jawabkan berdasarkan "ngelmu" yang saya mampu miliki hingga kini. 


Jadi, walau indera ke-enam dst mungkin yang mampu mereka miliki (katanya), 
tetap saja yang mampu saya tangkap hanya hingga 5 dimensi tersebut.

Bukannya saya percaya atau tidak percaya dengan yang gaib-gaib itu lho Eyang 
Aby. Bukan juga karena saya "durung Jowo" atau tidak memiliki darah "orang 
bunian", seperti konon riwayat nenek moyang saya masa lalu. Eyang kakung dan 
beberapa "ndulur" saya dahulu bukan saja pernah mengaku kenal dengan Nyai Roro 
Kidul, turunan Dewi Nawangwulan, bahkan mengajar silat atau menari kepada yang 
belum pernah belajar sebelumnya hanya dengan hanya semedi dimuka mereka, 
menyembuhkan penyakit dengan hanya air memberi minum air putih yang didoakan 
atau dimasukkan tulisan huruf "alif", dsb, dsb. 

Tetap saja saya tidak mampu nerekam karya mereka sebagai "fakta ilmiah" yang 
dapat dipertanggung jawabkan. Jadi saya memilih untuk memsaukkan semua karya 
pemikiran dan kemampuan manusia sebagai individu atau kelompok tersebut sebagai 
"kekhasan kultural" (antropologik) , sama sahih-nya dengan kepercayaan para 
pakar produk pemikiran dari Barat hingga ke Timur di "masyarakat Global" ini.   
  


Jadi, kalau mau pakai istilah sekolahan, saya memasukkan pendekatan 
fenomenologi dalam pengertian memahami alam dan manusia yang hidup didalamnya 
berdasarkan dinamika perubahan kondisi fisikal wakturuangnya maupun dinamika 
perubahan unsur kultural individu maupun kelompok pemukimmya (asal/lokal maupun 
pendatang). Bahkan pendekatan deep-ekologi, environmentalisme radikal atau 
penganut konsep "green" (architecture/ building/ city dll) sesungguhnya juga 
bukan hanya berbasis "kearifan" alam, namun juga memiliki atau dipengaruhi oleh 
acuan atau cara memberi nilai-nilai "kultural" yang belum tentu sama di kawasan 
yang berbeda...  


Jadi...silahkan berargumentasi lagi...tidak perlu lebih cepat lebih baik, 
tidak apa-apa berlama-lama merenung, menemukan atau mengembangkan kebenaran 
baru, asalkan sambil tidak berhenti beramal (berproduk). .. melalui amalan 
tersebut akan berkembang pulau temuan kebenaran baru...karena alam dan manusia 
juga selalu berubah...mengalir. ..dengan ikhlas....

Kita cuma mengikuti siklus dinamis perubahan selama puluhan, ratusan, 
ribuan...bahkan jutaan tahun....apapun yang kita lakukan, seberapa besar 
keberhasilan kita berdebat mengenai menghemat sumber daya alam dan membela kaum 
tertinggal.. . 


....jangan malah "tidur lagi"...nanti malah keterusan tidur loh....

Salam,
ATA
 

2009/8/4 Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>













 




    
                  


Prof. ATA, mas Djarot & rekan2 ysh,

Wah ternyata kalau kita diskusi tentang yang 'ghoib' jadi menarik juga ya... 
Prof. ATA, ada yang bilang itu 'dimensi ke-4', tetapi untuk masuk kesana harus 
pakai indera yang ke-6. 

Bagi mereka yang punya bakat atau dikaruniai kelebihan/kepekaan indera ke-6, 
mungkin bisa merasakan hal-hal yang 'ghoib' yang tidak 'kasat mata normal', 
maka mereka yang punya 'keluwihan' tersebut dapat disebut sebagai 'paranormal'. 


Masalahnya kalau dikaitkan dengan 'penciptaan ruang' yang seluas kota, dimana 
dihuni oleh banyak orang dengan berbagai kemauan dan berbeda pandangan, apakah 
'pendekatan' tersebut dapat menyelesaikan masalah, terutama tentunya untuk 
meningkatkan harkat hidup (kesejahteraan&kedamaian&keselamatan)  bagi 
masyarakat penghuni kota ? Mungkin di jaman Kerajaan dulu, dimana rakyat 
menganggap rajanya sebagai 'wakil Tuhan' di bumi, semua rakyat menyerahkan 
'kebijakan' kepada sang raja, sehingga tidak ada 'planning process' yang 
demokratis dalam pengambilan keputusan.


Saya pernah terpikir 'analogi', kalau dulu ada orang yang punya 'keluwihan' 
bisa berkomunikasi jarak jauh dengan cara 'telepati', sekarang dengan adanya 
'hp' setiap orang dapat berkomunikasi jarak jauh tanpa harus belajar dulu ilmu 
'telepati'. Sepertinya penemu teknologi 'hp' itulah yang sekarang kita sebut 
orang 'linuwih atau sakti', karena dia dapat 'menterjemahkan' fenomena 
'telepati' dengan teknologi modern yang dapat diterima dan menguntungkan orang 
banyak (walaupun ada segi negatifnya juga lho...). Mungkinkah dengan 'semedi' 
kita dapat memperoleh 'wangsit' pendekatan teknologi yang dapat 'menciptakan 
ruang' untuk meningkatkan harkat hidup masyarakat suatu kota ? Semoga ada ya 
....wallahualam bisawab.


Wassalam,

Onnos


To: refere...@yahoogrou ps.com
From: takdi...@gmail. com
Date: Tue, 4 Aug 2009 08:54:37 +0700 

Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

  



Yth Pak Onnos,

Selama ini yang saya anggap dimensi ke 4 adalah waktu sedangkan dimensi ke 5 
kultur manusia setempat (termasuk kearifan lokal yang dapat arif lingkungan 
ataupun belum/masih antropogenik/ berbasis keberlanjutan komunitasnya sendiri, 
misalnya etnik yang berpindah setelah lingkungan lama tidak mampu mendukung 
lagi/rusak) --> waktu-ruang- kultural. 

Kalau supranatural mau dimasukkan, wah, bisa jadi dimensi yang ke 6, yang 
mungkin saya perlu belajar banyak dari rekan-rekan mengenai bagaimana metode 
pengumpulan informasi/datanya untuk penataan waktu-ruang- kultural- 
supernatural. ...?

(Eyang Aby, saya lupa bagaimana caranya semedi, dulu waktu mendapat wahyu 
cakraningrat bagaimana ya....? takut malah jadi memedi.....)   

Salam,
ATA


2009/8/3 Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com>


  



Pak BSP dan rekan2 ysh,
Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning', sepertinya pak 
BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'. 
Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau menyusun 
semacam  kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang pernah ada di negeri 
ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi 4' yang mungkin terkait erat 
dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia arsitektur mungkin sudah lama kita 
berkenalan dengan 'fengsui' yang kemungkinan dapat diperluas untuk dunia 
'planning' tingkat kota ? Namun demikian, dengan paradigma baru dalam 
'planning', salah satunya dengan lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam 
proses 'planning', apakah pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh 
masyarakat kita dimasa depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar 
teori 'planning ala-barat' yang serba pakai logika yang jelas, tetapi 
mungkinkah kita di jaman sekarang membangun negeri ini dengan tradisi katakan 
'ala-timur' misalnya dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta 
ruang yang dapat memberi kesejahteraan buat rakyat di
 negeri tercinta ini.

Wassalam,
Onnos  
 



To: refere...@yahoogrou ps.com

From: bspr...@indosat. net.id
Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700

Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?

  



Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh,

Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat keramat. 
Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat keramat tersebut. 
Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan terjebak kepada 
pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik.


Contoh permasalahan yang akan muncul :

a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat meriam 
beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang kuat .... 
namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak sudut2 dimana energi 
tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah tersentuh .... karena memang 
disembunyikan oleh orang yang tahu... apakah kita akan mengklasifikasikan 
sebagai sebuah kesatuan atau terpisah ....


b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita 
mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita menggabungkan 
antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung 

c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat ataukah Istana 
Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana klasifikasinya;


d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti masjid di 
Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus (satu baru saja 
mati) 

e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar, Gunung 
Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria misalnya


Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang mencoba 
dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan menyebabkan kita 
perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan itu.


Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang berbasis 
pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan orkestra yang 
ditentukan oleh ukuran yang tertentu. 

Salam

bambang sp





Share your memories online with anyone you want anyone you want. 










Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes!  Click here

 

      

    
    
        
        
        
        


        


        
        
        
        
        




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke