Pak Onnos, saya kira ada alternatif nyata yang berkembang, yaitu think locally, do locally, meskipun dalam kesadaran aktif kita selalu ada informasi global yang secara alamiah terlibat dalam proses berpikir dan mendorong juga ke arah think globally.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Tue, 8/11/09, Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> wrote: From: Sugiono Ronodihardjo <[email protected]> Subject: RE: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? To: "[email protected]" <[email protected]> Date: Tuesday, August 11, 2009, 12:38 AM Pak ATA, mas Djarot, Eyang Aby, dan rekan-2 ysh, Semoga rekan-2 sempat membuka & merenungkan ‘attachement’ saya sebelum ini (Mental Feng Shui), maaf itu sifatnya sekedar meramaikan diskusi tentang fenomenalogi ‘keramat – critical planning’. Namun demikian, sepertinya buat rekan-2 yang sedang bersemedi (kata lain untuk mempelajari dengan ber’tapa’ di kampus) untuk ‘menekuni’ (bukan me’nerkuni’ lho..) fenomenologi ini, timbul pertanyaan apakah kita ini sedang mengikuti pola pikir ‘think locally, do globally’ bukan ‘think globally, do locally’ ? Karena mungkin dengan mengumpulkan ceritera-2 ‘keramat’ local, kita berharap dapat sesuatu yang berpengaruh untuk ‘planning’ yang lebih luas/global’ ? Kemudian, kalau kita sempat baca kembali bukunya Alvin & Heidi Toffler (1. Future Shock (1970), 2. The Thrid Wave (1980) dan 3. Creating A New Civilization, The Politics of the Third Wave(1995), maaf kalau buku-2 ini sudah dianggap kuno-kedaluwarso lho…(atau justru 'keramat'), sepertinya kita perlu merenungkan kembali, sebetulnya mau kemana kita ini dalam masa 20 – 30 bahkan 50 tahun kedepan. Para ‘planner’ ysh, tentunya mempunyai pola pikir ‘futuristic’ (mirip tetapi bukan ‘peramal’ atau ‘paranormal’ lho…), sepertinya ditantang untuk membuat konsep seperi pasangan Toffler diatas. Mungkinkah setelah atau dalam ‘Gelobang Ketiga’ yaitu ‘era teknologi informasi – komunikasi’ yang saat ini sedang berjalan dengan cepatnya mempengaruhi pola kehidupan dan peradaban manusia di bumi ini, dapatkah kita memanfaatkannya pola pikir ‘think locally, do globally’ dengan mencoba men’jabar’ kan (maaf bukan men’jowo’ kan lho .. he he he) fenomologi ‘keramat’ ? Buat Eyang Aby ysh, bicara ‘planning’ dalam lingkup mikro-mezzo- makro, memang sangat luas kaitannya tidak hanya fisik saja, mungkin perlu ‘meta-fisik’ juga, tetapi yang jelas kita tidak bisa lepas dari masalah kebijakan politik-ekonomi- sosial-budaya- hukum, sehingga akan banyak orang yang terlibat atau di-libat-kan, pusing ya…salah sendiri yang mau mempelajarinya ya… Semoga tulisan ini bermanfaat, mohon pencerahan rekan-2 yang sudah banyak pengalaman, maaf buat pak ATA kalau saya salah sebut pangkat eh jabatannya ya ... kapan sempat ketemu darat ? Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: dpurb...@yahoo. com Date: Mon, 10 Aug 2009 08:48:43 -0700 Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? Pak Abimanyu dan sahabats, Sudah beberapa kali saya sampaikan bahwa hal-hal gaib itu tidak dapat kita masuki terutama bagi mereka yang tidak memiliki kemampuan memasukinya. Jadi kebenarannya sangat tergantung pada kredibilitas informan yang mengalami atau yang bisa melihat. Secara ilmiah tentu ada caranya yang agak mendekati, yaitu dengan proses cross check atau triangulasi sampai jenuh. Repotnya, jika kita ingin mengungkapkan (bukan memasuki) kebenaran itu memang diperlukan orang-orang yang mengalami sendiri atau orang-orang yang mampu melihatnya. Cara ini seperti kita mendengarkan ceritera tentang mimpi yang sangat subyektif. Tetapi sebenarnya ada bedanya. Minggu kemarin saudara saya yang saya ketahui bisa melihat alam gaib nyekar bersama saya ke makam saudara-saudara, dia berceritera bahwa beberapa kali dia datang ke makam eyang kakung dari sampingnya selalu ada kejadian aneh. Kejadian itu adalah dari sebuah nisan selalu keluar pusaka-pusaka yang bergerak-gerak naik turun, berupa keris, tombak dll. Dia sendiri selalu merasakan seluruh tubuhnya seperti dicocok-cocok dengan pusaka-pusaka itu. Nyekar kemarin lebih jelas lagi, ternyata dia melihat (gaib) di atas nisan itu duduk seorang laki-laki kekar badannya, leher dan kedua tangannya dirantai. Tangan kirinya memegang benda mirip sebuah telur angsa dan warnanya ungu-merah. Dia merasakan bahwa laki-laki itu masih saudara kami. Ketika nyekar selesai, di depan gerbang makam kakak saya bertanya, siapa nama orang yang dikuburkan di sebelah eyang kakung? Ia melanjutkan, orang itu pegangannya banyak dan sudah bertahun-tahun roh itu ada di sana. Tadi dia menyodorkan tangan kiri dan kayaknya mengatakan minta tolong supaya telur ungu-merah itu dilepaskan, sebab jika bisa dilepaskan ia akan terbebas dari semua jimat yang mengikatnya. Soer harinya kami konfirmasi kepada Bapak, menanyakan siapa namanya dan bagaimana riwayatnya orang itu ketika masih hidup. Ternyata ada ceritera yang cocok, bahwa laki-laki kekar itu dulu memang orang hebat, punya banyak pusaka sehingga hebat. Dia bahkan bisa memindahkan bayi dari kandungan yang satu ke yang lain. Aneh-aneh kataku dalam hati. tetapi itu ceritera lama. Nah jika kita ingin memasuki kebenaran yang lebih dalam, tentu diperlukan langkah-langkah lagi yang lebih sistematis hingga ditemukan kejenuhan informasi. Artinya masih diperlukan informasi dari orang-orang yang hidup sejaman dengan laki-laki kekar itu. Kakak saya bilang, baginya cukup tahu nama lengkap laki-laki itu, dia sanggup melepaskan bebannya dengan doa khusus yang dilihatnya di tempat itu. Jika serius untuk memasuki kebenaran gaib saya kira ada jalan yang bisa ditempuh, dengan cara-cara yang mendekati kebenaran ilmiah juga. Salam, Djarot Purbadi http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnu santara.wordpres s.com http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com --- On Mon, 8/10/09, abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> wrote: From: abimanyu takdir alamsyah <takdi...@gmail. com> Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? To: refere...@yahoogrou ps.com Date: Monday, August 10, 2009, 5:07 PM Mas Ono ysh, kalau pake prof2-an saya ga bebas ngomong nih, biasa sajalah, saya masih seperti di PMB dulu... (Kalau di tempat yang relevan ok, atau di dewan GB malah enak...karena ga inget nama semua GB, jadi tinggal panggil "prof"...beres. ..he he...praktis. ..) Mengeai dimensi, dalam ber-hermenetik- fenomemologis saya lebih suka membagi dua saja: dimensi alam dan manusia. Kalau alam (ecologik atau bio-geokimia/ fisik) ya waktu-ruang (4 dimensi) saja, karena saya bukan nabi Sulaiman yang bisa berdialog dengan unsur alam...Karena alam tidak bisa ngomong (paling tidak sama saya, pendekatan hermenetik lebih pas bagi saya....telusuri saja secara mendalam.... Kalau manusia (antropo atau psiko-sosio- ekonomi-hukum- budaya, dll unsur peradaban manusia) saya menambahkan istilah "kultur", jadi 5 dimensi: wakturuang kultural. Sebabnya? semua hasil pemikiran, penghayatan, kepercayaan dll manusia walau sangat beragam produknya atau seberapa luas wilayah jelajah rohaninya atau seberapa mumpuni ajian kewajyuannya, yang saya peroleh baru sampai tahap memahami kekhasan pemberian nilai-nilai/ values yang bersifat atau berbasis kultur kelompok (atau individu?) yang dianut (dipercaya)- nya. Nah kalau dimensi ke-enam dst yang mas Ono sampaikan, menurut saya dapat saja diduplikasi terhadap yang 5 dimensi tersebut, walau tidak "kasat mata", susah saya pertanggung jawabkan berdasarkan "ngelmu" yang saya mampu miliki hingga kini. Jadi, walau indera ke-enam dst mungkin yang mampu mereka miliki (katanya), tetap saja yang mampu saya tangkap hanya hingga 5 dimensi tersebut. Bukannya saya percaya atau tidak percaya dengan yang gaib-gaib itu lho Eyang Aby. Bukan juga karena saya "durung Jowo" atau tidak memiliki darah "orang bunian", seperti konon riwayat nenek moyang saya masa lalu. Eyang kakung dan beberapa "ndulur" saya dahulu bukan saja pernah mengaku kenal dengan Nyai Roro Kidul, turunan Dewi Nawangwulan, bahkan mengajar silat atau menari kepada yang belum pernah belajar sebelumnya hanya dengan hanya semedi dimuka mereka, menyembuhkan penyakit dengan hanya air memberi minum air putih yang didoakan atau dimasukkan tulisan huruf "alif", dsb, dsb. Tetap saja saya tidak mampu nerekam karya mereka sebagai "fakta ilmiah" yang dapat dipertanggung jawabkan. Jadi saya memilih untuk memsaukkan semua karya pemikiran dan kemampuan manusia sebagai individu atau kelompok tersebut sebagai "kekhasan kultural" (antropologik) , sama sahih-nya dengan kepercayaan para pakar produk pemikiran dari Barat hingga ke Timur di "masyarakat Global" ini. Jadi, kalau mau pakai istilah sekolahan, saya memasukkan pendekatan fenomenologi dalam pengertian memahami alam dan manusia yang hidup didalamnya berdasarkan dinamika perubahan kondisi fisikal wakturuangnya maupun dinamika perubahan unsur kultural individu maupun kelompok pemukimmya (asal/lokal maupun pendatang). Bahkan pendekatan deep-ekologi, environmentalisme radikal atau penganut konsep "green" (architecture/ building/ city dll) sesungguhnya juga bukan hanya berbasis "kearifan" alam, namun juga memiliki atau dipengaruhi oleh acuan atau cara memberi nilai-nilai "kultural" yang belum tentu sama di kawasan yang berbeda... Jadi...silahkan berargumentasi lagi...tidak perlu lebih cepat lebih baik, tidak apa-apa berlama-lama merenung, menemukan atau mengembangkan kebenaran baru, asalkan sambil tidak berhenti beramal (berproduk). .. melalui amalan tersebut akan berkembang pulau temuan kebenaran baru...karena alam dan manusia juga selalu berubah...mengalir. ..dengan ikhlas.... Kita cuma mengikuti siklus dinamis perubahan selama puluhan, ratusan, ribuan...bahkan jutaan tahun....apapun yang kita lakukan, seberapa besar keberhasilan kita berdebat mengenai menghemat sumber daya alam dan membela kaum tertinggal.. . ....jangan malah "tidur lagi"...nanti malah keterusan tidur loh.... Salam, ATA 2009/8/4 Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> Prof. ATA, mas Djarot & rekan2 ysh, Wah ternyata kalau kita diskusi tentang yang 'ghoib' jadi menarik juga ya... Prof. ATA, ada yang bilang itu 'dimensi ke-4', tetapi untuk masuk kesana harus pakai indera yang ke-6. Bagi mereka yang punya bakat atau dikaruniai kelebihan/kepekaan indera ke-6, mungkin bisa merasakan hal-hal yang 'ghoib' yang tidak 'kasat mata normal', maka mereka yang punya 'keluwihan' tersebut dapat disebut sebagai 'paranormal' . Masalahnya kalau dikaitkan dengan 'penciptaan ruang' yang seluas kota, dimana dihuni oleh banyak orang dengan berbagai kemauan dan berbeda pandangan, apakah 'pendekatan' tersebut dapat menyelesaikan masalah, terutama tentunya untuk meningkatkan harkat hidup (kesejahteraan&kedamaian&keselamatan) bagi masyarakat penghuni kota ? Mungkin di jaman Kerajaan dulu, dimana rakyat menganggap rajanya sebagai 'wakil Tuhan' di bumi, semua rakyat menyerahkan 'kebijakan' kepada sang raja, sehingga tidak ada 'planning process' yang demokratis dalam pengambilan keputusan. Saya pernah terpikir 'analogi', kalau dulu ada orang yang punya 'keluwihan' bisa berkomunikasi jarak jauh dengan cara 'telepati', sekarang dengan adanya 'hp' setiap orang dapat berkomunikasi jarak jauh tanpa harus belajar dulu ilmu 'telepati'. Sepertinya penemu teknologi 'hp' itulah yang sekarang kita sebut orang 'linuwih atau sakti', karena dia dapat 'menterjemahkan' fenomena 'telepati' dengan teknologi modern yang dapat diterima dan menguntungkan orang banyak (walaupun ada segi negatifnya juga lho...). Mungkinkah dengan 'semedi' kita dapat memperoleh 'wangsit' pendekatan teknologi yang dapat 'menciptakan ruang' untuk meningkatkan harkat hidup masyarakat suatu kota ? Semoga ada ya ....wallahualam bisawab. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: takdi...@gmail. com Date: Tue, 4 Aug 2009 08:54:37 +0700 Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? Yth Pak Onnos, Selama ini yang saya anggap dimensi ke 4 adalah waktu sedangkan dimensi ke 5 kultur manusia setempat (termasuk kearifan lokal yang dapat arif lingkungan ataupun belum/masih antropogenik/ berbasis keberlanjutan komunitasnya sendiri, misalnya etnik yang berpindah setelah lingkungan lama tidak mampu mendukung lagi/rusak) --> waktu-ruang- kultural. Kalau supranatural mau dimasukkan, wah, bisa jadi dimensi yang ke 6, yang mungkin saya perlu belajar banyak dari rekan-rekan mengenai bagaimana metode pengumpulan informasi/datanya untuk penataan waktu-ruang- kultural- supernatural. ...? (Eyang Aby, saya lupa bagaimana caranya semedi, dulu waktu mendapat wahyu cakraningrat bagaimana ya....? takut malah jadi memedi.....) Salam, ATA 2009/8/3 Sugiono Ronodihardjo <sugion...@hotmail. com> Pak BSP dan rekan2 ysh, Mengikuti diskusi tentang 'tempat keramat - critical planning', sepertinya pak BSP setelah lama tinggal di Yogya jadi lebih 'njowoni'. Memang sangat baik kalau ada rekan2 yang tertarik untuk memetakan atau menyusun semacam kumpulan ceritera tentang 'penciptaan ruang' yang pernah ada di negeri ini dengan pendekatan 'supranatural' atau 'dimensi 4' yang mungkin terkait erat dengan 'kearifan lokal'. Dalam dunia arsitektur mungkin sudah lama kita berkenalan dengan 'fengsui' yang kemungkinan dapat diperluas untuk dunia 'planning' tingkat kota ? Namun demikian, dengan paradigma baru dalam 'planning', salah satunya dengan lebih adanya 'keterbukaan dan demokrasi' dalam proses 'planning', apakah pendekatan 'supranatural' dapat diterima oleh masyarakat kita dimasa depan yang semakin 'modern' ? Kebanyakan kita belajar teori 'planning ala-barat' yang serba pakai logika yang jelas, tetapi mungkinkah kita di jaman sekarang membangun negeri ini dengan tradisi katakan 'ala-timur' misalnya dengan cara 'meditasi' ? Selamat mencoba, semoga tercipta ruang yang dapat memberi kesejahteraan buat rakyat di negeri tercinta ini. Wassalam, Onnos To: refere...@yahoogrou ps.com From: bspr...@indosat. net.id Date: Mon, 3 Aug 2009 10:09:16 +0700 Subject: Re: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? Mas Koeswadi, Mas Djarot ysh, Memang menarik bagi kita untuk bisa membuat sebuah inseklopedia tempat keramat. Namun kita harus sangat berhati-hati terhadap definisi tempat keramat tersebut. Perlu ada pemilahan yang jelas karena kalau tidak akan terjebak kepada pengelompokan yang tidak terklasifikasi dengan baik. Contoh permasalahan yang akan muncul : a. bagaimana kita mengklasifikasi kraton di Sambas dimana terdapat meriam beranak. Secara energi disana memang ada sebuah medan energi yang kuat .... namun orang lebih datang pada meriam itu, sedangkan banyak sudut2 dimana energi tersebut snagta kuat, ternyata tidak pernah tersentuh .... karena memang disembunyikan oleh orang yang tahu... apakah kita akan mengklasifikasikan sebagai sebuah kesatuan atau terpisah .... b. situs Trowulan yang saat ini terpencar-pencar ini bagaimana kita mengkodifikasi ... sebagai kesatuan atau tidak ... akankah kita menggabungkan antara Candi Tikus dengan Pendopo Agung c. apakah Masjid Raya Maimoon yang akan menjadi lekasi keramat ataukah Istana Maimoon di Medan ataukah ini sebuah kesatuan .. dan bagaimana klasifikasinya; d. bagaimanakah kita menyikapi terhadap lokasi "keramat" seperti masjid di Jimbung Klaten yang dikeramatkan karena ada sepasang bulus (satu baru saja mati) e. bagaimanakah kita mengkodifikasi antara Gunug Srandil, Gua Semar, Gunung Kemukus, Gunung Kawi dengan misalnya petilasan Sunan Muria misalnya Jadi karena kita sudah dibiasakan menggunakan pendekatan barat yang mencoba dengan pola sistematisasi dan strukturisasi sehingga ini akan menyebabkan kita perlu melakukan adjustment dalam pembuatan pengarsipan itu. Inilah sulitnya bila kita mau menggabungkan pendekatan gamelan yang berbasis pada harmonisasi dari improvisasi anggota kelompok dengan orkestra yang ditentukan oleh ukuran yang tertentu. Salam bambang sp Share your memories online with anyone you want anyone you want. Be seen with Buddy! Tag your picture and win exciting prizes! Click here With Windows Live, you can organize, edit, and share your photos.

