Pak Risfan, Pak Onnos, dan Pak Djarot, sebenarnya kita sudah hampir
sampai pada rumusan tentang 'jagad'. Saya sebenarnya mengharapkan
diskusi kita bisa sampai pada perumusan dalil-dalil keruangan dalam
skala luas, yang mungkin untuk sementara waktu saya melihat dalam dua
hal: 1) geometri ruang, atau istilah Pak BSP dengan geomanchy, dan 2)
formasi ruang yang terbentuk oleh warisan budaya, atau istilah Pak
Suhadi dengan pusaka. Kita belum punya khazanah ini untuk literatur
modern.

Untuk diskusi futurologi, mohon juga bisa di-cc-kan ke milis Futurologi
<http://groups.yahoo.com/group/futurologi/>  ya pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote:
>
> Pak Risfan, saya kira panjenengan tepat sekali mengatakan bahwa
pendekatan fenomenologi untuk kawasan dengan spesifikasi unik dan tidak
bisa digunakan untuk skala yang luas, artinya jika digunakan itu sangat
dipaksakan. Teman saya dari Undip menegaskan bahwa fenomenologi itu
sangat cocok untuk mendekati fenomena yang fokus dan lokusnya berimpit.
Artinya, ya kawasan yang memiliki keunikan dan tidak terduplikasi di
tempat lain (lokusnya bisa dimana-mana).
>
> Fenomena relasi manusia dengan sungai bisa terjadi di mana-mana,
tetapi fenomena relasi masyarakat Code dengan sungai Code yang spesifik
ya hanya terjadi di sepanjang Kali Code di Yogyakarta. Keunikan
tersebut-lah yang menjadi sebab utama munculnya keinginan menggali lebih
jauh bagaimana keunikan hubungan manusia dan sungai di Code. Temuannya
memang sebentuk teori lokal, yang berlaku di Code atau fenomena yang
memiliki kemiripan dengan Code. Jika dilakukan generalisasi atau
universalisasi tentunya hanya bagian yang inti saja dari teori yang
ditemukan di Code.
>
> Bagi saya, meskipun temuannya hanya teori lokal, mungkin tidak
terduplikasi di tempat lain atau tidak dapat berlaku di tempat lain,
sebenarnya sudah cukup bagus sebab kita sudah mampu menemukan
sendi-sendi kehidupan lokal yang spesifik. Teori yang ditemukan menjadi
pijakan untuk intervensi yang berbasis budaya lokal.
>
> Sekarang kali Code ditanggul dengan talud pasangan batu dalam
paradigma rasionalisasi, maka yang terjadi adalah ketertiban yang
menghilangkan belik-belik lama. Hilangnya belik-belik itu juga
menghilangkan budaya kehidupan di sungai di kalangan masyarakat bawah.
Hal itu bisa juga menghilangkan katub-katub pengamana sosial yang
mungkin ada sehingga dalam keadaan paling menderita-pun mereka masih
bisa bertahan. Trend baru yang dikembangkan adalah re-naturalisasi
kawasan sungai, supaya relasi manusia dengan sungai menjadi damai
kembali, sungaiku juga menjadi halaman dan ruang kehidupanku.
>
> Bagi pengamat yang berjarak dari sungai dan kehidupan spesifiknya akan
mengatakan bahwa rasionalisasi sungai adalah jalan yang sangat logis,
tetapi orang lain dengan pendekatan yang lebih alami akan mengatakan itu
keliru dan sebaiknya dilakukan tata hidup yang sinerji antara manusia
dengan sungai. Sekarang ada Festival Code untuk menjaga harmoni
kehidupan manusia dan sungai yang sempat hilang.
>
> Salam,
>
>
>
> Djarot Purbadi
>
>
>
> http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK]
>
> http://arsitekturnusantara.wordpress.com
>
> http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com
>
> --- On Tue, 8/11/09, risfano risf...@... wrote:
>
> From: risfano risf...@...
> Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ?
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, August 11, 2009, 11:43 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Pak Dajrot, Pak Onnos,
>
>
>
> Sejauh yang saya pahami pendekatan-pendekat an kualitatif seperti
fenomenologi, etnografi, grounded-research kok memang ditujukan untuk
sesuatu yang spesifik dan lokal, pada sisi ekstremnya memang para
pengembang metode itu memang menghindari generalisasi, deduksi, dst.
Adat, tradisi, kepercayaan masyarakat Jogja mungkin beda dengan
masyarakat pesisiran Jawa.
>
>
>
> Sehingga kalau dalam planning lebih kena untuk analisis level site,
bagian kota atau kota kecil. Kalau untuk level regional, apalagi
provinsi dan lebih luas, pendekatan kualitatif sejenis fenomenologi itu
mungkin terlalu dipaksakan ya. Untuk metropolitan yang etnisnya
campuran,kosmopolit mungkin konsistensi kesimpulan analisis tersebut
lemah.
>
>
>
> Kalau dilakukan dalam wilayah luas, mungkin bisa, tapi untuk hal yang
sangat spesifik. Seperti contohnya etnografi diterapkan untuk
mempelajari "perilaku oang menggunakan komputer", beberapa merk komputer
terkenal menggunakan penelitian ini untuk menyesuaikan design-nya dengan
cara orang menggunakan komputer. Atau untuk produk minuman, misalnya,
yang menemukan bahwa untuk merek tertentu orang suka beli karena bentuk
dan warna botolnya, dst.
>
>
>
> "Peramalan" seperti Tofflers kan skalanya makro, inter-disiplin,
tradisinya mungkin populer disini juga setelah "Limits of Growth" nya
Club of Rome, gabungan ekolog, ekonom, sosiolog, budayawan,
matematikawan, modeller, dst. Juga rand corporation, tentu. Kalangan
bisnis-manajemen juga banyak mengembangkan pusat riset masa depan ala
Global Business Networks/GBN (Peter Schwartz). Pada intinya mereka
membuat skenario-skenario masa depan untuk mengantisipasi perubahan.
>
> Sesungguhnya letak nilai guna mereka bukan pada "ramalan"nya, karena
ramalannya secara spesifik banyak meleset juga, tetapi model-model yang
mereka kembangkan, untuk dipakai dan di-update terus dan mengantisipasi
masa depan.
>
>
>
> Menyangkut planning di tanah air, dulu NUDS ada membuat kajian
skenario yang inter-disiplin juga, ada dua faktor pengaruh yang
diskenariokan waktu itu "desentralisasi" vs "perubahan struktur ekonomi
pertanian-manufaktu r-jasa", masing-masing dengan 3 kemungkinan, jadi
ada 9 skenario. Yang seperti itu menarik untuk dikembangkan dan diupdate
terus, tapi siapa yang membiayai ya.
>
>
>
> Pasca reformasi yl, banyak kegiatan menyusun skenario masa depan
dilakukan oleh lembaga pemerintah ataupun LSM, umumnya menggunakan
pendekatan yang dikembangkan Peter Schwartz (GBN) yang dia tulis dalam
bukunya "The Art of Long View". Peendahuluan buku ini menarik (seingat
saya) karena mengisyahkan "dukun" Mesir, yang meramalkan kehidupan dari
warna air Sungai Nil. Pada masa Mesir kuno mungkin itu ajaib, tapi pada
masa kini penjelasannya rasional, karena air sungai mencerminkan curah
hujan atau kekeringan dan tingkat erosi yang sangat mempengaruhi
kehidupan ekonomi agraria. Sekarang di negara kita orang bicara El Nino
yang membawa kemarau panjang.
>
>
>
> Di ITB dulu yang penggiat kajian kajian futurologi tsb seingat saya
almarhum Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana yang memang selalu tampil
visioner, dialah pelopor satelit Indonesia, mungkin juga karena beliau
masih putra Sutan Takdir Alisyahbana, budayawan yang selalu melihat ke
depan.
>
>
>
> Saya lihat serial buku Toffler masih ada lengkap di TB Aksara di
Pacific Place, cuma buku terakhirnya tahun 2006 ya, sebelum terjadi
"krisis keuangan" USA, jadi keadaan dunia mungkin beda. Untuk ekonomi,
barangkali menengok blog nya Krugman, atau economist edisi tertentu bisa
mengobat rindu.
>
>
>
> Satu hal yang saya ingat dari pendapat Toffler ialah bahwa pada
masyarakat Gelombang Kedua, pemilu hanyalah satu-satunya peluang rakyat
milih, selanjutnya mesin "birokrasi dan korporasi" bekerja menurut
logika mesin besarnya (yang membesarkan diri sendiri), tak peduli "apa
atau siapa" yang telah dipilih rakyat.
>
>
>
> Salam,
>
> Risfan Munir
>
>
>
> --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote:
>
> >
>
> > Pak Onnos, saya kira ada alternatif nyata yang berkembang, yaitu
think locally, do locally, meskipun dalam kesadaran aktif kita selalu
ada informasi global yang secara alamiah terlibat dalam proses berpikir
dan mendorong juga ke arah think globally.
>
> >
>
> > Salam,
>
> >
>
> >
>
> >
>
> > Djarot Purbadi


Kirim email ke