Sahabats, Tema jagad ini menarik ketika kita menemukan konsep "jagad gede-jagad cilik" atau makrokosmos-mikrokosmos pada beberapa budaya lokal di Indonesia. Saya tidak begitu punya informasi apakah konsep tersebut juga ada di dunia barat (Eropa - Amerika) atau yang lain. Ada yang menarik lagi, yaitu konsep yang sama dirumuskan dengan bagus pada kalangan masyarakat Hindu Bali yang mengatakan "manik ring cucupu" yang artinya kurang lebih jagad cilik adalah bayi (manik) di dalam kandungan ibunya (cucupu). Gagasan ini kan sangat memperhatikan kelestarian manusia dan alamnya; jadi sebuah konsep pembangunan berkelanjutan yang indah dan applicable.
Salam, Djarot Purbadi http://realmwk.wordpress.com [Blog Resmi MWK] http://arsitekturnusantara.wordpress.com http://fenomenologiarsitektur.wordpress.com --- On Tue, 8/11/09, ffekadj <[email protected]> wrote: From: ffekadj <[email protected]> Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? To: [email protected] Date: Tuesday, August 11, 2009, 11:57 PM Pak Risfan, Pak Onnos, dan Pak Djarot, sebenarnya kita sudah hampir sampai pada rumusan tentang 'jagad'. Saya sebenarnya mengharapkan diskusi kita bisa sampai pada perumusan dalil-dalil keruangan dalam skala luas, yang mungkin untuk sementara waktu saya melihat dalam dua hal: 1) geometri ruang, atau istilah Pak BSP dengan geomanchy, dan 2) formasi ruang yang terbentuk oleh warisan budaya, atau istilah Pak Suhadi dengan pusaka. Kita belum punya khazanah ini untuk literatur modern. Untuk diskusi futurologi, mohon juga bisa di-cc-kan ke milis Futurologi ya pak. Salam. -ekadj --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi <dpurb...@...> wrote: > > Pak Risfan, saya kira panjenengan tepat sekali mengatakan bahwa pendekatan > fenomenologi untuk kawasan dengan spesifikasi unik dan tidak bisa digunakan > untuk skala yang luas, artinya jika digunakan itu sangat dipaksakan. Teman > saya dari Undip menegaskan bahwa fenomenologi itu sangat cocok untuk > mendekati fenomena yang fokus dan lokusnya berimpit. Artinya, ya kawasan yang > memiliki keunikan dan tidak terduplikasi di tempat lain (lokusnya bisa > dimana-mana) . > > Fenomena relasi manusia dengan sungai bisa terjadi di mana-mana, tetapi > fenomena relasi masyarakat Code dengan sungai Code yang spesifik ya hanya > terjadi di sepanjang Kali Code di Yogyakarta. Keunikan tersebut-lah yang > menjadi sebab utama munculnya keinginan menggali lebih jauh bagaimana > keunikan hubungan manusia dan sungai di Code. Temuannya memang sebentuk teori > lokal, yang berlaku di Code atau fenomena yang memiliki kemiripan dengan > Code. Jika dilakukan generalisasi atau universalisasi tentunya hanya bagian > yang inti saja dari teori yang ditemukan di Code. > > Bagi saya, meskipun temuannya hanya teori lokal, mungkin tidak terduplikasi > di tempat lain atau tidak dapat berlaku di tempat lain, sebenarnya sudah > cukup bagus sebab kita sudah mampu menemukan sendi-sendi kehidupan lokal yang > spesifik. Teori yang ditemukan menjadi pijakan untuk intervensi yang berbasis > budaya lokal. > > Sekarang kali Code ditanggul dengan talud pasangan batu dalam paradigma > rasionalisasi, maka yang terjadi adalah ketertiban yang menghilangkan > belik-belik lama. Hilangnya belik-belik itu juga menghilangkan budaya > kehidupan di sungai di kalangan masyarakat bawah. Hal itu bisa juga > menghilangkan katub-katub pengamana sosial yang mungkin ada sehingga dalam > keadaan paling menderita-pun mereka masih bisa bertahan. Trend baru yang > dikembangkan adalah re-naturalisasi kawasan sungai, supaya relasi manusia > dengan sungai menjadi damai kembali, sungaiku juga menjadi halaman dan ruang > kehidupanku. > > Bagi pengamat yang berjarak dari sungai dan kehidupan spesifiknya akan > mengatakan bahwa rasionalisasi sungai adalah jalan yang sangat logis, tetapi > orang lain dengan pendekatan yang lebih alami akan mengatakan itu keliru dan > sebaiknya dilakukan tata hidup yang sinerji antara manusia dengan sungai. > Sekarang ada Festival Code untuk menjaga harmoni kehidupan manusia dan sungai > yang sempat hilang. > > Salam, > > > > Djarot Purbadi > > > > http://realmwk. wordpress. com [Blog Resmi MWK] > > http://arsitekturnu santara.wordpres s.com > > http://fenomenologi arsitektur. wordpress. com > > --- On Tue, 8/11/09, risfano risf...@... wrote: > > From: risfano risf...@... > Subject: [referensi] Re: tempat keramat--- critical planning ? > To: refere...@yahoogrou ps.com > Date: Tuesday, August 11, 2009, 11:43 AM > > > > > > > > > > > > > Pak Dajrot, Pak Onnos, > > > > Sejauh yang saya pahami pendekatan-pendekat an kualitatif seperti > fenomenologi, etnografi, grounded-research kok memang ditujukan untuk sesuatu > yang spesifik dan lokal, pada sisi ekstremnya memang para pengembang metode > itu memang menghindari generalisasi, deduksi, dst. Adat, tradisi, kepercayaan > masyarakat Jogja mungkin beda dengan masyarakat pesisiran Jawa. > > > > Sehingga kalau dalam planning lebih kena untuk analisis level site, bagian > kota atau kota kecil. Kalau untuk level regional, apalagi provinsi dan lebih > luas, pendekatan kualitatif sejenis fenomenologi itu mungkin terlalu > dipaksakan ya. Untuk metropolitan yang etnisnya campuran,kosmopolit mungkin > konsistensi kesimpulan analisis tersebut lemah. > > > > Kalau dilakukan dalam wilayah luas, mungkin bisa, tapi untuk hal yang sangat > spesifik. Seperti contohnya etnografi diterapkan untuk mempelajari "perilaku > oang menggunakan komputer", beberapa merk komputer terkenal menggunakan > penelitian ini untuk menyesuaikan design-nya dengan cara orang menggunakan > komputer. Atau untuk produk minuman, misalnya, yang menemukan bahwa untuk > merek tertentu orang suka beli karena bentuk dan warna botolnya, dst. > > > > "Peramalan" seperti Tofflers kan skalanya makro, inter-disiplin, tradisinya > mungkin populer disini juga setelah "Limits of Growth" nya Club of Rome, > gabungan ekolog, ekonom, sosiolog, budayawan, matematikawan, modeller, dst. > Juga rand corporation, tentu. Kalangan bisnis-manajemen juga banyak > mengembangkan pusat riset masa depan ala Global Business Networks/GBN (Peter > Schwartz). Pada intinya mereka membuat skenario-skenario masa depan untuk > mengantisipasi perubahan. > > Sesungguhnya letak nilai guna mereka bukan pada "ramalan"nya, karena > ramalannya secara spesifik banyak meleset juga, tetapi model-model yang > mereka kembangkan, untuk dipakai dan di-update terus dan mengantisipasi masa > depan. > > > > Menyangkut planning di tanah air, dulu NUDS ada membuat kajian skenario yang > inter-disiplin juga, ada dua faktor pengaruh yang diskenariokan waktu itu > "desentralisasi" vs "perubahan struktur ekonomi pertanian-manufaktu r-jasa", > masing-masing dengan 3 kemungkinan, jadi ada 9 skenario. Yang seperti itu > menarik untuk dikembangkan dan diupdate terus, tapi siapa yang membiayai ya. > > > > Pasca reformasi yl, banyak kegiatan menyusun skenario masa depan dilakukan > oleh lembaga pemerintah ataupun LSM, umumnya menggunakan pendekatan yang > dikembangkan Peter Schwartz (GBN) yang dia tulis dalam bukunya "The Art of > Long View". Peendahuluan buku ini menarik (seingat saya) karena mengisyahkan > "dukun" Mesir, yang meramalkan kehidupan dari warna air Sungai Nil. Pada masa > Mesir kuno mungkin itu ajaib, tapi pada masa kini penjelasannya rasional, > karena air sungai mencerminkan curah hujan atau kekeringan dan tingkat erosi > yang sangat mempengaruhi kehidupan ekonomi agraria. Sekarang di negara kita > orang bicara El Nino yang membawa kemarau panjang. > > > > Di ITB dulu yang penggiat kajian kajian futurologi tsb seingat saya almarhum > Prof. Dr. Iskandar Alisyahbana yang memang selalu tampil visioner, dialah > pelopor satelit Indonesia, mungkin juga karena beliau masih putra Sutan > Takdir Alisyahbana, budayawan yang selalu melihat ke depan. > > > > Saya lihat serial buku Toffler masih ada lengkap di TB Aksara di Pacific > Place, cuma buku terakhirnya tahun 2006 ya, sebelum terjadi "krisis keuangan" > USA, jadi keadaan dunia mungkin beda. Untuk ekonomi, barangkali menengok blog > nya Krugman, atau economist edisi tertentu bisa mengobat rindu. > > > > Satu hal yang saya ingat dari pendapat Toffler ialah bahwa pada masyarakat > Gelombang Kedua, pemilu hanyalah satu-satunya peluang rakyat milih, > selanjutnya mesin "birokrasi dan korporasi" bekerja menurut logika mesin > besarnya (yang membesarkan diri sendiri), tak peduli "apa atau siapa" yang > telah dipilih rakyat. > > > > Salam, > > Risfan Munir > > > > --- In refere...@yahoogrou ps.com, Djarot Purbadi dpurbadi@ .> wrote: > > > > > > Pak Onnos, saya kira ada alternatif nyata yang berkembang, yaitu think > > locally, do locally, meskipun dalam kesadaran aktif kita selalu ada > > informasi global yang secara alamiah terlibat dalam proses berpikir dan > > mendorong juga ke arah think globally. > > > > > > Salam, > > > > > > > > > > > > Djarot Purbadi

