Kota Singkawang menempati peringkat ke 42 dari 66 Kota se Indonesia yang 
mengalami inflasi. Sebelumnya, Singkawang menempati urutan ke sepuluh. Hal itu 
disampaikan Suminar, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), dalam konferensi pers 
berita resmi stastik BPS Kota Singkawang, Senin (6/10).

Perubahan peringkat akibat sumbangan inflasi di Kota Singkawang pada September 
2008, yang mencapai angka 0,83 persen. Angka tersebut lebih rendah bila 
dibandingkan laju inflasi pada Agustus 2008, yang mencapai 1,27 persen.

“Dengan inflasi September tersebut, laju inflasi di tahun kalender 
Januari-September 2008, Kota Singkawang sebesar 12, 64 persen. Inflasi year on 
year, September 2007-September 2008 sebesar 15,07 persen,” kata Suminar.

Pada September 2008, kelompok komoditi yang memberikan sumbangan inflasi adalah 
kelompok bahan makanan, sebesar 0,1052 persen. Kelompok makanan jadi, minuman, 
rokok, dan tembakau sebesar 0,0409 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, 
gas dan bahan bakar sebesar 0,0652 persen. Sandang sebesar 0,0415 persen. 
Kesehatan sebesar 0,0488 persen. Pendidikan, rekreasi, dan olah raga sebesar 
0,0844 persen. Kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,4385 
persen.

“Dengan adanya tujuh kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi pada 
bulan September 2008, secara signifikan menyebabkan terjadinya inflasi di Kota 
Singkawang,” kata Suminar.

Sesuai dengan kelompok, kelompok bahan makanan sebesar 0,83 persen. Kelompok 
makanan jadi, minuman, dan rokok sebesar 0,25 persen. Kelompok perumahan, air, 
listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,27 persen. Kelompok sandang 0,82 persen. 
Kelompok kesehatan sebesar 1,08 persen. Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah 
raga sebesar 1,90 persen. Kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 
sebesar 2,58 persen.

Menurut Suminar, berdasarkan pengelompokkan, naiknya indeks harga konsumen 
(IHK) kelompok bahan makanan pada September 2008, sebesar 0,38 persen, 
dikarenakan terjadinya kenaikan harga pada beberapa komoditi. Terutama daging 
babi, udang basah, ikan kembung, ikan tongkol, sawi hijau, cabe rawit, dan 
telur ayam ras.

Dari sebelas kelompok yang termasuk dalam kelompok bahan makanan, enam sub 
kelompok mengalami kenaikan indeks. Sementara lima sub kelompok lainnya 
mengalami penurunan. Dari enam sub kelompok yang mengalami kenaikan indeks, 
yang mengalami kenaikan indeks tertinggi, terjadi pada sub kelompok ikan segar 
sebesar 2,90 persen.

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami kenaikan indeks 
sebesar 0,25 persen. Kenaikan itu disebabkan adanya kenaikan sub kelompok 
makanan jadi dan minuman tidak berakohol. Sementara untuk sub pokok tembakau 
dan minuman beralkohol tetap. Komoditi yang memberikan inflasi pada kelompok 
ini antara lain, nasi, mie, serta martabak.

Bahan bakar rumah tangga, batu, sabun deterjen bubuk, sabun cair untuk cuci 
piring juga memberikan sumbangan inflasi pada kelompok perumahan, air, gas dan 
bahan bakar. Untuk sandang, celana panjang jeans, baju kaos, baju muslim, serta 
celana pendek juga menjadi penyumbang inflasi pada September. Obat dengan 
resep, pasta gigi, dan pelembab, yang termasuk dalam kelompok kesehatan, juga 
mempengaruhi terjadinya inflasi.

Untuk kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga, komoditi yang memberikan 
sumbangan adalah tarif sekolah, buku tulis bergaris, serta penyediaan televisi 
berwarna. Sementara untuk kelompok transportasi, angkutan udara, ban luar 
motor, rantai motor, dan angkutan laut, juga mempengaruhi terjadinya inflasi di 
Kota Singkawang.

Sumber : www.borneo-tribune.net

Kirim email ke