PEMANGKAT-Sejumlah sekolah meminta Pemerintah daerah Sambas menjadikan sekolah 
menjadi sasaran prioritas untuk pencegahan berkembangbiakan penyakit demam 
berdarah. "Sekolah tidak hanya tempat belajar, namun bermain bagi anak-anak 
usia SD dan SMP, sehingga berpotensi tinggi terkena penyakit demam berdarah," 
ungkap Kepala Sekolah MIN Pemangkat, Sipni S.pdi, seusai pertemuan sosialisasi 
pembangunan di gedung pertemuan Kantor Camat Pemangkat kemarin.

Dia mengatakan anak-anak murid usia SD atau SMP bahkan SMA menghabiskan waktu 
di sekolah. Bayangkan, kata dia, anak-anak masuk sekolah mulai pukul 07.00 
sampai 12.10 WIB. Dia menambahkan dalam waktu yang panjang tersebut, para siswa 
bermain disekitar lingkungan sekolah. Dan tidak menutup kemungkinan, kata dia, 
banyak tempat-tempat menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk Aedis. Karena, 
papar dia, nyamuk penyebab demam berdarah ini lebih menyukai tempat 
penampuangan air yang bersih, seperti genangan air dalam ban atau kaleng.

Untuk itu, kebijakan pengasapan dan abatisasi harus menjadikan sekolah sebagai 
prioritas selain lingkungan masyarakat. Dia mengatakan MIN Pemangkat sebagai 
sekolah yang pernah meraih sekolah sehat tingkat propinsi 2007, selalu berupaya 
menciptakan lingkungan bersih. Sehingga program 3M terus digalakkan. Saat ini, 
kata dia, sudah 2 orang murid MIN Pemangkat terkena serangan demam berdarah. 
Alasan inilah, kata dia, mendorong sekolah untuk meminta pemerintah jangan 
sampai mengabaikan sekolah. "Apalagi Pemangkat sudah menjadi daerah rawan demam 
berdarah," timpalnya.

Kemudian, Kepala MTSN Pemangkat, Suhaimi, meminta pemerintah daerah untuk tidak 
mengabaikan sekolah. Dalam hal ini, dia setuju apabila sekolah menjadi target 
prioritas pencegahan perkembangbiakan demam berdarah.Dia mengakui setiap 
sekolah memiliki kondisi lingkugan yang berbeda. Seperti MTS Negeri Pemangkat. 
Kondisi sekolahnya dekat dengan semak belukar yang berada di belakang sekolah. 
Kemudian, dekat dengan pemukiman warga. Sehingga tidak menuutup kemungkinan 
tingkat perkembangbiakan sarang nyamuk cukup tinggi.

Oleh sebab itu, pengasapan dan abatisasi dapat segera dilakukan. "Minimal kita 
dapat mengurangi korban demam berdarah pada usia sekolah," katanya.Disamping 
itu, Kepala Sekolah SMPN 2 Pemangkat, Mujahidin, mengatakan sekolah sangat 
tepat untuk dijadikan sasaran utama pencegahan DBD.Dia mengatakan selama ini 
upaya-upaya internal seperti membersihkan ruangan, lingkungan, selokan sudah 
dilakukan. Akan tetapi, untuk sampai pengasapan dan abatisasi dibutuhkan 
kerjasama dengan puskesmas Pemangkat. Oleh sebab itu, dia mendorong agar 
sekolah mendapat upaya pencegahan dari pemerintah secara rutin. Sekolah yang 
pernah meraih juara II dalam kompetisi sekolah sehat tingkat SMP Kabupaten 
Sambas 2008 ini, sangat khawatir para siswa terkena demam berdarah. "Karena 
salah satu siswa kami meninggal akibat demam berdarah," timpalnya. Sehingga 
pihak sekolah mewaspadai jangan sampai jatuh korban lagi.

Apalagi, kata dia, SMPN 2 Pemangkat memiliki tekstrur tanah yang rendah, 
sehingga ketika musim hujan datang lingkungan sekolah selalu terjadi genangan 
air, baik selokan maupun tempat penampungan lainya. Ditambah lagi, papar dia, 
sekolah ini berdekatan dengan sawah dan jalan yang drainasenya tersumbat. 
Dengan demikian, cukup berpotensi menambah kantong-kantong sumber sarang 
nyamuk. Akan tetapi, kata dia, para siswa selalu diingatkan untuk menciptakan 
lingkungan bersih. Seperti tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebugaran 
badan dan menerapkan pola hidup sehat. Tidak hanya itu, pihak sekolah 
menyiapkan petugas kebersihan untuk memantau perkembangan kebersihan disekolah. 
(har)

Sumber : www.pontianakpost.com

Kirim email ke