SINGKAWANG-Partai Demokrasi Kebangsaan Kota Singkawang membela Bong Wui Khong yang dianggap oleh pengurus Partai Perjuangan Indonesia Baru sebagai kutu loncat. "Apa yang mendasari pemikiran David Juanidi, sehingga mengatakan Bong Wui Khong kutu loncat. Seharusnya, David mengusai subtansi dan pengkajian lebih mendalam atau sengaja menyembunyikan realita dibalik peran untuk menghabisi karier politik Bong Wui Khong yang sangat berjasa dan piawai membesarkan Partai Perhimpunan Indonesia Baru di Kota Singkawang, sehingga memperoleh dua kursi di DPRD Kota Singkawang pada Pemilu 2004," kata Sekretaris PDK Kota Singkawang, Harun AS kepada Pontianak Post, kemarin. Kata Harun, kini terkesan seolah-olah pengurus PIB baru yang menjadi pejuang membesarkan PIB.
"Sangat menggelikan hati dan lucu." Harun menceritakan awal permasalahannya. Kata dia, Bong Wui Khong dibuang dan dihabisi Partai Perhimpunan Indonesia Baru berawal dari Konfercab PIB tanggal 28 Maret 2008 di Singkawang. "Hasilnya, menunjuk Bong Wui Khong sebagai calon Wali Kota atau Wakil Wali Kota Singkawang pada pilkada 2007," kata Harun memberikan pemahaman. Menurut Harun, dihabisinya karier politik Bong Wui Khong, karena ada ambisius di pengurus pusat PIB yang ingin maju pada pilkada 2007 dikondisikan dengan politik tangan besi untuk menggusur dan menghabisi seluruh kepengurusan DPC PIB peserta Pemilu 2004 di Kota Singkawang serta seluruh PAC dan ranting dengan alasan yang tidak jelas. Selanjutnya, kata Harun, membatalkan hasil Konfercab PIB Kota Singkawang 28 Maret 2006 tersebut. DPN PIB pusat mengutus Hasan Karman untuk melaksanakan konfercab ulang. Anehnya, kata Harun, tanpa sepengetahuan DPC PIB Kota Singkawang yang sah dilaksanakanlah Konfercab ulang di Hotel Mahkota dengan dihadiri peserta 100 persen orang baru. Sementara yang lama dibuang total. Harun mengatakan, publik Singkawang semua tahu bahwa Bahwi adalah Wakil Ketua PAN Kota Singkawang juga caleg PAN pada dapil tiga urutan dua pemilu 2004 dan Budiman dari Partai PKP Indonesia caleg dapil satu nomor urut satu. "Ini aneh tapi nyata. Sekejap bisa menjadi anggota PIB dari hasil konfercab ulang di Hotel Mahkota terpilih menjadi ketua dan sekretaris. Bong Wui Khong dan Liu Min Jam diamankan di dewan. Dengan hormat saya tanyakan kepada David yang berpikiran objektif apakah Bahwi dan Budiman dapat dianggap pejuang dan Bong Wui Khong yang berkorban material, pemikiran dan waktu, lalu diajukan PAW di DPRD, lalu dikatakan kutu loncat," kata Harun tak habis pikir. Bila karier politik dihabisi dengan cara dizolimi, kata Harun, tentu kelompok Bong Wui Khong menyalurkan karier politik mereka dengan pindah rumah ke PDK. "Itu sah-sah saja dialam demokrasi ini. Salahkan demikian," katanya. Kata Harun, 1 April 2008 PIB "ganti baju" dan masih saja untuk melakukan PAW Bong Wui Khong. Harun menilai, masalah ini menjadi rancu."Partai yang sudah ganti baju dan mati masih bisa jadi hantu bangkit. Dari perisitiwa itu jika David mengalami nasib seperti Bong Wui Khong logiskah disebut kutu loncat," katanya. (zrf) Sumber : www.pontianakpost.com
