Senin, Dewan Panggil Wali Kota

SINGKAWANG-Sebelum menggelar aksi menginap di Kantor Wali Kota Singkawang, 
sejumlah perwakilan warga transmigrasi Pamilang, Rabu (8/10) pagi mendatangi 
gedung DPRD Singkawang.

Kedatangan perwakilan warga transmigrasi Pamilang ini disambut oleh Ketua DPRD 
Singkawang, H Zaini Nur, Ketua Komisi A, Paryanto, dan sejumlah anggota DPRD 
diantaranya, Aloysius Killim S Ag, Agustinus J Valent dan Angguang. Pertemuan 
di ruangan Ketua DPRD Singkawang itu, warga transmigrasi mengaku akan menggelar 
aksi demontrasi besar-besaran terkait dengan belum diperolehnya lahan usaha 
(LU) satu hektar perkepala keluarga. Padahal, sudah lima tahun mereka mendiami 
kompleks transmigrasi Pamilang.

"Jangankan memperoleh lahan usaha, untuk status saja kami belum jelas. Mana 
bisa memperoleh sertifikat," kata mereka. Status yang dimaksudkan warga 
transmigrasi itu yakni, data kolektif warga transmigrasi yang di-SK-kan oleh 
Wali Kota Singkawang. Selain itu, perwakilan dari SP 1 Pamilang juga mengakui, 
ada warga transmigrasi yang lahan usaha yang belum diperoleh.

"Kalau pun ada yang memperoleh lahan usaha, tak genah juga. Ada yang menerima 
lahan usaha, tapi tak bisa diusahakan, karena tumpang tindih kepemilikan," kata 
warga yang mengaku lahan usaha tersebut berpasir. Tak hanya itu, pengukuran 
lahan usaha bukan melibatkan BPN, melainkan hanya menggunakan alat ukur tali 
saja.

"Waktu pengukuran hanya menggunakan tali, sangat manual sekali," katanya. Warga 
transmigrasi SP 1 dan SP 2 juga mengeluhkan tak ada listrik dan air bersih.

"Janganlah aliran, tiang listrik saja tidak ada. Selama ini kami menggunakan 
pelita. Air bersih ada pipanisasinya, tapi sejak dipasang dan sampai sekarang 
tak berfungsi. Dana yang dikeluarkan mencapai Rp1 miliar. Dikerjakan 
asal-asalan saja," katanya. Permasalahan-permasalahan yang menyelimuti warga 
transmigrasi inilah, membuat warga kecewa dan sepakat menggelar aksi di pemkot 
dan selanjutnya menginap. Sementara itu, dewan akan mengundang Wali Kota 
Singkawang guna mempertanyakan kejelasan solusi yang diambil.

"Waktu mereka menggelar aksi, minta diselesaikan. Kita ingin tanyakan langkah 
apa yang sudah diambil oleh pemkot guna menyelesaikan persoalan transmigrasi," 
kata Aloysius Killim. Ketua Komisi A DPRD Singkawang, Paryanto mengakui, akan 
segera membuat surat ke pimpinan DPRD guna memanggil Wali Kota Singkawang.

"Kita rencanakan Senin pekan depan mengundang wali kota. Salah satunya ingin 
menanyakan permasalahan transmigrasi. Harus ada solusi dari pemkot," kata 
Paryanto. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengakui, dalam 
pertemuan itu nanti bukan hanya masalah transmigrasi yang akan ditanyakan, 
melainkan permasalahan pemerintahan dan sosial masyarakat. Dia menyebutkan soal 
tapal batas antara Singkawang Utara dengan Timur, tapal batas Pemkot dengan 
Bengkayang khususnya PT Patiware. Selain itu, kata dia, masalah aset antara 
Singkawang dengan Sambas terutama PDAM, penolakan warga Pasiran yang akan 
dibangunnya pesangahan dan tanggap tarap di Gunung Sari dan sebagainya.

"Kurang lebih ada sepuluh pointer yang akan kita tanyakan," kata Paryanto. Dia 
sangat berharap, eksekutif bisa menghadirkan pihak-pihak yang berkompeten 
masalah ini, sehingga bisa diambil solusi. Ketua DPRD Singkawang, minta warga 
trans untuk bersabar dan menunggu hasil pertemuan antara DPRD dengan eksekutif.

"Demo dan menginap di kantor wali kota, diharapkan untuk ditunda terlebih 
dahulu," kata Zaini Nur. Salah satu perwakilan warga, Suparlan mengaku, siap 
menunda aksi di pemkot. "Kita akan dengarkan dulu bagaimana keputusan dari 
eksekutif setelah pertemuan nanti. Bila tak ada solusi, kita siap demo di 
pemkot," kata Suparlan. (zrf)

Sumber : www.pontianakpost.com

Kirim email ke