|
Mungkin kita dapat dikategorikan termasuk
orang yang rajin mengikuti ibadah di gereja, atau datang ke persekutuan
doa. Tetapi mengapa sepertinya hidup kita terkadang tidak memiliki
pengharapan. Hidup kita yang semula berjalan dengan baik, tiba-tiba menjadi
kacau, segala sesuatu yang sudah kita rencanakan dan usahakan sepertinya
menemui jalan buntu. Sehingga kadang kita berpendapat bahwa diri kita jauh
dari keberuntungan, berharap mujizat dan kuasa tetapi yang kita harapkan
tidak terjadi.
Bila kejadian seperti itu terjadi,
penyebabnya bukanlah Allah, dan faktor terbesar dari penyebabnya adalah
diri kita sendiri. Tanpa kita sadari kadang perbuatan kita menyebabkan timbulnya
pelanggaran kepada Tuhan. Pelanggaran inilah yang menyebabkan dosa, dan
dosalah yang membuat semua yang berjalan dengan baik menjadi kacau. Kalau
sudah demikian sepertinya penyertaan Tuhan tidak berlaku lagi di dalam
hidup kita. Hal tersebut adalah anggapan yang keliru, karena sebetulnya
Allah tetap menyertai kita, dan kuasaNya akan dinyatakan pada saat:
|
1.
|
Saat kita meninggikan nama Tuhan (1Sam. 17:45). Pada saat Daud
menghadapi Goliat, dia hanya datang dengan membawa tongkat dan lembing di
tangan. Olehnya Goliat memandang sebelah mata kepadanya, terlebih bila
dibandingkan fisik dan perawakan Goliat lebih besar bagai raksasa. Tetapi
karena Daud datang dengan nama Tuhan semesta Alam, maka kuasa Tuhan
dinyatakan dan terjadi atasnya, sehingga diserahkannya Goliat ke dalam
tangannya.
|
|
2.
|
Saat kita sabar
(Kol.1:11-14). Jika kesabaran ada di dalam diri kita, maka kita akan
dapat mengucap syukur dan bersukacita untuk apa yang terjadi. Dalam
kesabaran yang diarahkan hanya kepada Allah, hasilnya kita akan melihat
dan mengalami bahwa kuasaNya dinyatakan pada kita.
|
|
3.
|
Saat kita berserah
(2Sam.12:13). Saat kita menyerahkan dan mengangkat tangan segala sesuatu
yang tidak mampuh kita berbuat kepad Allah, maka Allah akan menurunkan
tanganNya menolong kita. Dia akan menyatakan kuasaNya dan mengambil alih
dan menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut.
|
|
4.
|
Saat kita tidak
sombong (1Sam. 18:11-15).
Inilah yang menyenangkan hati Allah, Daud tidak menjadi sombong. Saat dia
pulang selesai mengalahkan orang Filistin itu, orang-orang dari segala kota
menyanyikan nyanyian yang isinya memuji-muji Daud. Justru hal tersebut
malah membuat hati Saul gusar, dan karena kesombongannya ia tidak dapat
menerimanya sehingga berencana untuk membunuh Daud, tetapi tidak berhasil
karena Tuhan menyatakan kuasaNya pada orang yang dikenanNya. (Ariel)
|
|