|
Ada
kalanya kita lihat sikap orang yang keras kepala dan maunya menang sendiri.
Ini menunjukkan karakter egois yang sangat dominan, sehingga apapun yang
dikatakan orang lain untuk memberikan masukan atau nasihat, semua akan
diabaikan. Segala sesuatu diukur menurut kebenarannya sendiri. Apapun yang
disampaikan kepadanya tak berguna, sia-sia belaka.
Karekater inilah yang tergambar dari nats
bacaan kita di atas. Sikap yang keras kepala, masa bodoh, dan maunya sendiri,
begitu kental mencuat kepermukaan. Dan karakter seperti ini pula yang tidak
jarang kita temui dalam kehidupan kita, tidak terkecuali orang Kristen.
Maunya segala sesuatu terjadi sekehendak hatinya. Tenggang rasa,
pengertian, etika, toleransi, atau apapun istilah yang dapat dipakai
memperlunaknya, tak lagi berarti.
Pelajaran yang bisa kita ambil dari
renungan hari ini, paling tidak mengingatkan kita untuk mau membuka hati
dengan tulus. Pertama hal ini akan mengingatkan kita bahwa dalam tindakan
dan perkataan haruslah berakal budi. Sebab, seringkali tindakan atau
perkataan sembrono justru menunjukkan kebodohan (Ams. 15:22).
Sengaja atau tidak sengaja, kita justru sedang mempertontonkan kebodohan
diri sendiri.
Hal kedua yang juga penting untuk kita
pahami bahwa nasihat orang yang didasarkan pada firman Tuhan akan membangun
hikmat yang menuntun kita pada tindakan yang selaras dengan kebenaranNya.
Artinya, bahwa keputusan kita bertindak bukan sekedar didasarkan pada
kesenangan diri semata, tetapi jauh lebih dalam lagi, yaitu melandasinya
dengan kebenaran Kristus yang menyukakan hati Tuhan.
Sekarang kita harus membuka hati dan
mulai menyadari, bahwa Allah ingin kita mendengar tuntunanNya. Begitu pula
pola kehidupan kita hendaknya mulai bergeser, tidak lagi keras kepala,
keras hati, dan sombong. Belajarlah dari keadaan sekitar, buka telinga,
jangan merasa telah melakukan yang paling benar. Sebab, kebenaran sejati
hanya ada dalam Yesus Kristus. Amin! (tlt)
|