Mas Ulil,
Calm down...Saya bukan hendak memaki JIL kok....
Tapi rupanya 'kecelik' saya masih pada tempatnya.
artinya tidak salah, karena justru saya menemukan
jawaban itu. Dimana dengan penjelasan (mungkin lebih
tepat jika disebut klarifikasi) di bawah itu, semakin
jelas apa yang saya duga selama ini. Rupanya snda juga
tidak 'pura-pura' tuli dan mau merespons beberapa
kritik terhadap Islam Liberal, seperti 'kritik mas
Baso. Meski kritik --terutama yang di Muktamar Solo--
itu sudah berlalu 2 tahun lepas. Ini bermakna anda
sudah terpancing dengan gaya2 mas BAso dkk....yang
sebenarnya adalah konsekwensi logis dari kemunculan
JIL itu sendiri.
Bagiku, apapun produk pemikiran adalah bagaikan
'fashion' atau 'mode' pakaian. Ketika fashion itu lagi
ngetrend, so pasti ada kalanya digandrungi anak2 muda
di zamannya. Demikian sengan Mas Ulil, mungkin seperti
salah satu 'peragawan' fashion tersebut. Jadi, apapun
'fashion' pemikiran yang diperagakan mas Ulil (yang
terkadang dianggap anti-tradisi) itu juga pasti ada
peminatnya ataupun yang alergi. Maka terjadilah
pro-kontra.
Sayangnya, terkadang peminat tersebut tidak setulusnya
seratus persen 'menjiplak' idolanya. Malah terkadang
ingin lebih gila dari idola tersebut dalam berfashion.
Inilah yang mengakibatkan kenapa anak-anak muda
tersebut berjinak-jinak dengan karya-karya pemikir
BArat kontemporer yg kini disebut dengan kitab-kitab
putih sebagai lawan dari kitab-kitab kuning (klasik).
Malah bukan hanya itu, mereka juga mula memakai
teori-teori yang biasa muncul di bidang-bidang
sains-sosial. Meskipun sebenarnya keadaan itu terjadi
awalnya hanya untuk sekedar iangin cari tahu atau
setindaknya biar tidak ketinggalan zaman dalam
pemikiran yang lagi ngetrend di tanah Air. Karena bagi
kalangan tertentu ISLIB adalah berakar ke BArat. Jadi
mungkin demikianlah cara mereka utuk mengimbangi
trend-trend pemikiran yang berkembang tersebut.
Jadi, mas Ulil juga gak usah seperti 'kegerahan' jika
dikritik mereka demikian. OK?
Salam,
Fath
--- Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Mbak Fath,
> Saya sama sekali tak melihat kontradiksi antara
> pandangan-pandangan keagamaan saya yang liberal
> (tentu
> tidak semua; sebagian besar pandangan keagamaan
> saya,
> terutama yang berkaitan dengan aspek rohaniah, masih
> sangat tradisional) dengan kecintaan saya pada
> tradisi
> Islam klasik. Bahkan dorongan-dorongan ke arah
> liberalisme pemikiran banyak saya temukan dalam
> tradisi.
>
> Saya hanya risau saja, teman-teman saya yang selama
> ini mengkritik Islam liberal sebagai anti-tradisi
> malah justru tidak atau jarang membaca tradisi Islam
> sendiri. Bacaan teman-teman saya yang ingin
> "mempertahankan" tradisi NU itu justru malah
> karya-karya pemikir barat kontemporer, terutama
> filsafat posmodernisme, cultural studies, dsb.
> Mereka
> lebih akrab dengan teks-teks Homi Bhaba, Gayatri
> Spivak, Michel Foucault, Derrida, ketimbang
> teks-teks
> dari ranah tradisi Islam klasik sendiri.
>
> Saya sendiri menyukai teks-teks kaum "posmo" itu dan
> masih terus membaca, meskipun tidak intensif,
> sekedar
> untuk cari tahu saja. Tetapi, saya lebih menyukai
> teks
> Islam klasik. (Saya suka sekali dengan penafsiran
> John
> Caputo atas filsafat Derrida; Caputo mencoba membaca
> Derrida dalam kerangka yang sangat mistikal sekali).
>
>
> Saya sebetulnya sangat senang ada generasi baru NU
> yang terdedahkan pada teks-teks barat seperti ini;
> ini
> jelas akan memperkaya percakapan di dalam NU. Tetapi
> yang saya sungguh kaget adalah mereka menganggap
> saya
> dan teman-teman saya sebagai anti-tradisi, sementara
> mereka sendiri dibentuk oleh ide-ide dari barat. Ini
> yang saya ingin klarifikasi.
>
> Sebetulnya masalahnya sederhana saja. Teman-teman
> saya
> itu membaca literatur dari barat yang kebetulan
> berasal dari tradisi "posmo" yang banyak mengkritik
> modernitas. Ketika nama Islam liberal muncul, mereka
> menemukan sasaran yang baik untuk memakai
> teori-teori
> yang mereka baca dalam buku-buku dari barat itu. Ini
> yang menurut saya sama sekali ndak kena dan amat
> disayangkan.
>
> Saking antusiasnya teman-teman itu menggauli
> teori-teori posmodernitas atau cultural studies yang
> sangat "memuja" apa yang disebut dengan "local
> knowledge" itu, ada sebagian yang membenci institusi
> sekolah karena itu dianggap sebagai bagian dari
> modernitas. Ini, buat saya, kan "keterlaluan". Wong
> NU
> membutuhkan sebanyak mungkin generasi baru yang
> terdidik, kok malah ini ada teman-teman yang
> bergerak
> ke arah lain, dan atas nama "tradisi" pula.
>
> Kesimpulan saya, apa yang dimaksud dengan "tradisi"
> di
> kepala teman-teman pengkritik saya itu (Baso dkk)
> adalah tradisi yang mereka "ciptakan" sendiri, bukan
> tradisi yang saya bicarakan dalam email-email saya
> akhir-akhir ini, dan juga bukan tradisi seperti
> dimengerti oleh para kiai di pondok-pondok. Katakan
> saja, "fabricated tradition".
>
> Tradisi di mata mereka ini sejenis romantisme kaum
> orientalis yang mendambakan dunia timur yang hilang,
> meskipun mereka tentu menolak dengan gigih
> penggambaran saya semacam ini (mereka mungkin akan
> memakai teorinya Edward Said atau yang lain untuk
> menolak ini).
>
> Saya benar-benar agak "geli" melihat kecakapan
> teman-teman ini memeragakan teori yang canggih dari
> barat untuk mempertahankan tradisi NU, tetapi
> tradisi
> NU yang mereka bela itu tidak pernah mereka baca dan
> geluti dengan sungguh-sungguh.
>
>
>
> Ulil
>
>
>
> --- "Fathonah K. Daud" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Membaca beberapa tulisan mas Ulil akhir2 ini, saya
> > agak 'terkeliru' seperti saya melihat wajah dan
> > costume mas Ulil yang lain. Gumamku :"mungkin mas
> > Ulil
> > 'came back'". Saya tak pasti apakah istilah yang
> > saya
> > gunakan itu sesuai apa tidak, yang jelas seperti
> > itulah pandangan saya selama ini. Dan, apakah
> > berarti
> > saya ketularan cara pandangnya mas Baso? saya kira
> > tidak.
> >
> > Saya juga agak terkejut ketika mas Ulil berbicara
> > tentang tradisi intelektual NU dan Islam klasik.
> ini
> > berarti balik kandang, lak iyo toh!(apa ini
> > klarifikasi? he he)
> >
> > Selama ini mas Ulil memang dipandang 'seakan'
> > meninggalkan tradisi, atau istilahnya mas Baso
> yang
> > "westernized'. Saya bilang 'seakan' karena
> kelihatan
> > kurang konsisten dalam pernyataan-pernyataan
> > pemikirannya. Gak usah jauh-jauh cari referens.
> > Rujuk
> > saja beberapa email Mas Ulil dengan pemikiran yang
> > berbeda-beda di KMNU ini. Dan, Mas Ulil gak usah
> > 'pura-pura' kaget kalau banyak kaum muda NU begitu
> > 'sinis' dengan JIL dan gak mau tahu tentang
> > tema-tema
> > yang diangkat JIL (yang sebenarnya adalah sangat
> > progresif) itu. Sekali lagi, apa yang saya bilang
> > ini
> > adalah kenyataan di lapangan. Saya senditi
> > melihatnya,
> > terutama ketika dalam diskus yang mengangkat tema
> > yang
> > berbau 'liberal' mereka pasti cepat2 melabelinya
> > 'sekuler' dll.
> >
> > Bagi saya, di tengah2 NU yang nota bene
> > tradisionalis
> > ini memang sangat diperlukan wujudnya sekelompok
> > orang
> > (apapun namanya) yang selalu komited terhadap
> > pemikiran Keislaman. Karena dengan demikian
> dianggap
> > sebagai penyeru kepada penggalian khazanah
> > intelektual
> > Islam. Apalagi tradisi Islam klasik yang sering
> > mencerminkan sosial budaya masa lampau dan karena
> > itu
> > kini sering dipandang kurang relevans dengan
> kondisi
> > sekarang, seperti tafsir2 yang berkaitan dengan
> isu
> > sosial atau gender, yang sewaktu-waktu dapat
> > ditinjau
> > kembali benar salahnya. Realitinya umat Islam
> lebih
> > banyakj bersifat tertutup dan nyaris beku dalam
> > bersikap dan tidak mau menerima pembaharuan
> > (whatever). Padahal pembaharuan semestinya
> merupakan
> > proses terus menerus.
> >
> > Namun, mas Ulil gak usah risau. Dengan eksisnya
> JIL,
> > Insyallah NU akan menjadi gelanggang untuk
> > pertembungan ide-ide yang cair dan tidak beku.
> > agaknya
> > perkembangan dan masa depan pemikiran keislaman di
> > Indonesia dapat ditentukan oleh dua corak dan pola
> > hubungan yang terbuka antar kelompok pemikiran
> ini.
> >
> > Salam
> > Fath
> >
> > --- Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > > Mas Arief,
> > > Mohon maaf jika email ini agak sedikit
> > > berkepanjangan.
> > > Saya akan meneruskan email pertama dengan
> > > menambahkan
> > > beberapa catatan berikut ini.
> > >
> > > Salah seorang yang memikirkan tradisi NU dan
> > > mengembangkannya dengan sungguh-sungguh dari
> sudut
> > > pemikiran adalah orang-orang seperti Masdar
> > Masudi,
> > > Kiai Husein Muhammad, dan beberapa teman muda
> lain
> > > yang terserak di banyak tempat. Mereka inilah
> yang
> > > dengan sungguh-sungguh "coming to term" dengan
> > > tradisi
>
=== message truncated ===
____________________________________________________________________________________Yahoo!
oneSearch: Finally, mobile search
that gives answers, not web links.
http://mobile.yahoo.com/mobileweb/onesearch?refer=1ONXIC