|
Ungkapan kata kebodohan, diambil dari
kata dasar bodoh, merupakan satu sifat yang secara umum selalu dihindari
oleh orang. Sebab sifat atau keberadaan ini mempunyai konotasi yang
negatif. Itu sebabnya kata bodoh ini sering menjadi perangkat atau sarana
umpatan atau makian dan cemoohan yang ditujukan kepada seseorang. Misalnya:
“Orang itu bodoh sekali.” Dan cemoohan atau umpatan lain yang
berkonotasi sama. Tentunya tidak seorangpun di antara kita yang senang
mempunyai predikat sebagai orang bodoh. Apapun keadaan kita, julukan
semacam itu tidak pantas untuk kita terima. Siapapun kita, tentu tidak mau
dikategorikan sebagai orang yang bodoh.
Dalam pokok renungan kita hari ini,
jelas dikatakan oleh Tuhan Yesus, bahwa orang yang mendengar firman Tuhan,
tetapi tidak melakukannya ia sama dengan orang yang bodoh yang mendirikan
rumahnya di atas pasir. Kalau ayat di atas diaplikasikan pada masa
sekarang, maka ayat tersebut lebih ditujukan kepada orang yang menamakan
dirinya Kristen, yang terlibat dalam pelayanan, tetapi tidak melakukan
firman Tuhan. Sebab mereka inilah yang berkesempatan dan menerima anugerah
untuk mengetahui rahasia firman Tuhan. Sekalipun mereka terlibat dalam
bidang pelayanan, namun jika tidak melakukan firman Tuhan, mereka juga
masuk dalam kategori orang yang bodoh.
Istilah bodoh dalam bahasa Yunani
menggunakan kata moros, yang berarti orang tolol atau juga bisa berarti
orang yang tidak berkembang. Tidak berkembang atau tidak berpengertian
dibalik kata moros ini, sebenarnya hendak diberitahukan kepada kita, bahwa
orang yang tidak membiasakan diri melakukan firman Tuhan adalah pribadi
yang tidak bertumbuh dan berkembang. Perkembangan yang dimaksudkan di sini
bukanlah perkembangan secara jasmani, melainkan perkembangan rohani.
Sedangkan orang yang tidak bertumbuh dan berkembang kerohanian, sekalipun
hatinya sering diisi dengan air sorgawi adalah orang yang bodoh. Yakobus
mengatakan, bahwa orang yang mendengar firman Tuhan, tetapi tidak
melakukannya, ia seumpama orang yang berdiri di depan cermin. Baru saja ia
memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia lupa bagaimana rupanya (Yak. 1:22-24).
Melalui firman Tuhan di atas, Tuhan
Yesus secara tegas menegur kita, agar kita mempunyai pertumbuhan rohani.
Sebab kedewasan rohani bukan diukur dari pandainya kita berteologia, tetapi
bagaimana cara kita mendengar dan melakukan firmanNya. GMA
|