|
Persoalan anak-anak muda sekarang ini
bukan lagi sekedar kenakalan remaja, minuman keras, atau narkoba. Lebih
dalam lagi, persoalan-persoalan kejiwaan yang sangat mengkhawatirkan.
Sebab, sangat banyak kasus di kalangan anak muda berawal dari hal-hal yang
bersifat kejiwaan (psikologis). Seperti kurangnya perhatian orang tua,
pendidikan yang salah, dan sebagainya, merupakan aspek mendasar yang
mendorong banyak anak muda jatuh dalam perbuatan dosa.
Kisah Samuel yang menjadi sentra
renungan kita saat ini menguraikan tentang keberadaannya sejak kecil.
Masalah yang melilit keluarganya, di mana ayahnya kawin lagi, ditambah
lingkungan hidup yang buruk. Tetapi, Alkitab mencatat bagaimana ia berhasil
melewati semua itu dan tetap setia pada Allah. Bagaimana ia mencapai
keberhasilannya? Ada
beberapa hal mendasar yang dapat kita jadikan pelajaran.
|
1.
|
Samuel memiliki tekad
yang kuat untuk melayani Tuhan. Meski usianya relatif muda, dan godaan
dunia begitu dahsyat, tidak membuat goyah tekadnya untuk selalu melakukan
pekerjaan untuk melayani Tuhan. Banyak anak muda sekarang ini begitu
rapuh jiwanya, tak memiliki kemauan yang kuat untuk berjalan dalam terang
Tuhan. Gambaran yang terlihat di kalangan anak muda justru keinginan
untuk bersikap masa bodoh, hura-hura, atau semau gue. Sebaliknya dengan
Samuel, meski usianya muda, ia tidak mau larut dengan keinginan dunia.
Dalam sikapnya ia tidak egois, tidak mengikuti gejolak “darah
muda”, dan mau tunduk dalam aturan dan pendidikan.
|
|
2.
|
Samuel mencintai
Tuhan lebih dari segalanya. Meski usianya teramat muda, ia memiliki hati
yang tulus dan tegar. Ia menikmati masa remajanya dengan penuh sukacita
melayani Tuhan. Bila kita refleksikan apa yang diperbuat Samuel dalam
kehidupan kita sehari-hari, menggambarkan pola hidup yang terkonsentrasi
untuk melayani Tuhan membuat hatiNya senang. Tidak tergoda berbagai macam
bujukan dunia, yang menjanjikan kesenangan-kesenangan semu.
|
|
3.
|
Menjaga hubungan
komunikasi yang baik dengan Allah. Samuel menjaga hatinya serta peka atas
panggilan Tuhan. Ia mendengar yang tidak didengar banyak orang, dan
selalu berpegang pada prinsip-prinsip firman Tuhan, serta menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaannya bagi kita adalah, bagaimana
kita menjaga komunikasi yang baik dengan Tuhan, sehingga hati kita
sensitif untuk mendengar suara Roh Kudus untuk menuntun hidup kita meraih
keberhasilan dan berkat Tuhan, serta keselamatan yang kekal. (GL)
|
|