|
Lalu kata Musa kepada Tuhan: “Ah
Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman
kepada hambapun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah. Tetapi Tuhan
berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia,…
bukankah Aku, yakni Tuhan?” (Kel. 4:10-11).
Bukankah alasan Musa juga menjadi alasan
kita saat ini? Untuk hal-hal yang benar, yang mulia, yang suci, yang manis
dan yang sedap didengar kita tidak pandai berbicara, berat mulut dan berat
lidah? Tetapi untuk hal-hal yang menajiskan orang, yang membuat orang
tersandung dan yang membuat orang sakit hati kita menjadi orang yang petah
lidah atau fasih lidah.
Menjadi pertanyaan hari ini adalah lewat
lidah kita berita apa yang kita sampaikan kepada orang lain? Apakah berita
itu dapat memberi semangat kepada yang letih lesu? Ataukah sebaliknya?
Yesaya berkata, “Supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat
baru kepada yang letih lesu.”
Saat ini, banyak orang Kristen berada
dalam keadaan yang letih lesu dikarenakan kata-kata yang pahit dari orang
lain. Oleh sebab itu, yang kita katakan bukanlah kata-kata yang hambar dan
kata-kata yang yang menyakiti hati, tetapi kata-kata yang menghibur, yang
menyegarkan dan menguatkan iman supaya keletihan dan kelesuan yang sedang
melanda mereka dapat digantikan dengan satu kelegaan yang menyegarkan
tulang. Tugas siapakah ini? Ini tugas kita semua yang telah mengaku sebagai
murid Kristus, sehingga semangat hidup yang sudah mulai pudar dapat
dipulihkan kembali. Sebab yang paling berbahaya dalam hidup manusia adalah
apabila seseorang sudah mulai kehilangan semangat hidupnya.
Bagaimana dengan lidah Saudara? Adakah
Saudara yang sedang bergumul untuk menjinakkan lidah Saudara yang ganas
itu? Dalam Yakobus 3:7-8 disebutkan, “Semua jenis binatang
liar,… dapat dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun
berkuasa menjinakkan lidah, ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai
dan penuh racun yang mematikan." Jika ini pergumulan hidup Saudara,
hanya Tuhan saja yang mampu menjinakkan lidah Saudara. Sebab yang
diciptakan harus tunduk kepada yang menciptakan, sehingga lidah Saudara betul-betul
bisa diasah menjadi lidah seorang murid Tuhan. Marilah kita menggunakan
lidah kita untuk mengucapkan kata-kata yang membangun iman, bermakna dan
menjadi berkat bagi orang lain. (FN)
|